Pernahkan kalian mendengar "Bayt Tamyiz”? Yang
konon katanya anak kecil disana sudah bisa menterjemahkan Al-Qur’an dan bisa dengan
mudah membaca kitab kuning (arab gundul). Iya, namanya Bayt Tamyiz, lokasinya
terletak di Desa Sukaperna, Kecamatan Tukdana Indramayu.
Bagaimana mungkin anak kecil disana bisa hafal terjemah al-qur’an? Bagaimana mungkin anak kecil disana bisa dengan mudah membaca kitab kuning (kitab gundul)? Metode apa yang mereka gunakan?
Beranjak dari rasa penasaran itulah
akhirnya saya berniat belajar langsung disana dan mencari-cari info terkait
Bayt Tamyiz Indramayu. Setelah membongkar celengan, Alhamdulillah cukup untuk perbekalanku selama di Bayt Tamyiz (Walaupun terlihat manja tapi sejak kecil saya sudah terbiasa dididik untuk mandiri).
Beberapa hari jelang
keberangkatan saya ke Bayt Tamyiz, saya dihantui keraguan mengingat beberapa
perkataan teman, “Untuk apa kamu kesana? Bukannya kamu udah bisa bahasa arab?
Biayanya lumayan loh, ahsan cari ilmu yang lain”. Tapi kuyakinkan diri ini
bahwa ilmu yang kudapat disana pasti bermanfaat, dan terus berdo’a jika ilmu ini bermanfaat untukku dan orang lain
maka mudahkanlah perjalanan ini.
Alhamdulillah, bulan Januari 2015 saya berkesempatan
mencicipi pengalaman belajar ke Bayt Tamyiz. Saya berangkat dengan ditemani kedua
orang tua saya serta keponakan saya. Kami berangkat dari
terminal tanah merah naek bus jurusan Cirebon dan turun di Masjid Tulung Agung (perbatasan
indramayu-cirebon) harga tiketnya Rp 50.000,00/orang.
Setelah hampir setengah
hari perjalanan akhirnya sampailah kita di Masjid Tulung Agung sekitar jam 11.30 WIB.
Karena bingung harus gimana, akhirnya kita tanya sama bapak-bapak yang ada di
sekitar Masjid, gimana caranya sampai ke Bayt Tamyiz. Ternyata untuk sampai ke tempat tujuan dari Masjid
Agung kita harus naek ojek karena jarak yang lumayan jauh dan ditengah
perjalanan nanti kita harus menyebrangi sungai menggunakan getek (ojeknya naek
getek juga). Ongkos dari Masjid Agung sampai Bayt Tamyiz dengan tiga ojek Rp.
50.000 dan ongkos naek getek Rp. 1000/orang.
Saya yang terbiasa
hidup di lingkungan pondok dengan pintu gerbang yang selalu dijaga oleh bagian
keamanan dan tembok pembatas antara pondok dan masyarakat sekitar pertama kali
heran ketika menginjakkan kaki di Bayt Tamyiz. apa betul ini tempatnya? Mana
pintu gerbangnya? dimana pondoknya? kenapa bentuknya tidak seperti pondok
kebanyakan?.
Iya disana para santri bisa berbaur dengan masyarakat tanpa ada tembok pembatas, Mungkin itulah salah satu alasan kenapa para santri kerasan di Bayt Tamyiz. (nebak aja si hehe)
Iya disana para santri bisa berbaur dengan masyarakat tanpa ada tembok pembatas, Mungkin itulah salah satu alasan kenapa para santri kerasan di Bayt Tamyiz. (nebak aja si hehe)
![]() |
| Gerbang Masuk Bayt Tamyiz |
Untuk peserta kursus bulanan di Bayt Tamyiz dikenakan biaya Rp.1.550.000/sebulan.
Dengan fasilitas satu paket modul tamyiz (Buku Tamyiz dan
kamus kawakaban), Laundry, dan makan 2x sehari (siang dan malam sedangkan untuk makan pagi para santri harus membeli di warung-warung sekitar pondok).
Berbeda dengan metode
bahasa arab lain yang targetnya adalah mempelajari segala hal tentang bahasa
arab, metode TAMYIZ yang diajarkan di Bayt Tamyiz hanya memformulasikan teori dasar nahwu dan shorof melalui pembelajaran
yang mudah.
Prinsip
belajar-mengajar Metode Tamyiz menggunakan Neuro Linguistic Programming
(NLP), yaitu belajar dengan cara Fun dan Active Teaching dengan mengaktifkan
potensi Otak Kiri (12% potensi belajar) yang sangat cerdas memahami, potensi
Otak Kanan (33% potensi belajar) yang dapat mengingat seumur hidup, dan potensi
Otak Bawah Sadar (55% potensi belajar) yang mengintegrasikan kecerdasan Otak
Kiri dan daya ingat Otak Kanan, sehingga belajar terjemah al-Qur’an dan membaca
Kitab kuning terasa sangat mudah dan menyenangkan.
Cara belajar mengajar TAMYIZ
mempunyai ciri khusus :
1.
LADUNI (ilate kudu muni); santri
harus mengeraskan suaranya (sebagai salah satu cara untuk mengoptimalkan
penggunaan potensi otak kanan dan otak kiri secara seimbang, sehingga hasil
belajar akan lebih optimal).
2.
SENTOT (santri TOT); model belajar
santri adalah model ustadz yang sedang mengajar santri : Insya Allah santri
otomatis bisa mengajarkan TAMYIZ kepada orang lain (konsep START FROM THE END).
3.
MUDAH; proses pembelajarannya harus
dirasakan mudah oleh santri yang bisa membaca Qur’an walau sama sekali tidak
mengerti tarjamah bahasa arab
4.
CEPAT & TEPAT; santri langsung
dituntun belajar tarjamah Qur ’an dan kitab kuning (santri hanya belajar
formulasi teori nahwu shorof sesuai keperluan untuk pintar menterjemah saja)
Alhamdulillah,
metode tamyiz yang saya pelajari disini sungguh sangat luar biasa. Disini kita belajar, seolah-olah
sedang bermain, akan tetapi hasilnya kita mengerti apa yang sedang kita pelajari in syaallah.
Setiap hari kami punya 4x waktu belajar, diawali dari pemanasan (menadzomkan materi-materi tamyiz bersama-sama) dari pukul 08.00-09.30 wib, pukul 10.00-11.30 wib dilanjutkan dengan materi. Lalu kami diberi waktu ishoma (istrahat, sholat dan makan) mulai dari pukul 11.30-13.00 wib. Kemudian lanjut kelas dari 13.00-14.30 wib, dan sore harinya mulai dari pukul 16.00-17.00 wib. Kebayangkan kenapa suara saya sempat hilang beberapa waktu disana.. hehe
Setiap hari kami punya 4x waktu belajar, diawali dari pemanasan (menadzomkan materi-materi tamyiz bersama-sama) dari pukul 08.00-09.30 wib, pukul 10.00-11.30 wib dilanjutkan dengan materi. Lalu kami diberi waktu ishoma (istrahat, sholat dan makan) mulai dari pukul 11.30-13.00 wib. Kemudian lanjut kelas dari 13.00-14.30 wib, dan sore harinya mulai dari pukul 16.00-17.00 wib. Kebayangkan kenapa suara saya sempat hilang beberapa waktu disana.. hehe
Tapi karena keterbatasan waktu yang
saya miliki, saya hanya baru belajar Tamyiz level 1 (cara mudah hafal terjemah
Al-Qur’an) dan level 2 (cara mudah membaca
kitab kuning) dengan masa belajar 1 bulan (2 minggu pertama belajar dan 2 minggu kedua
praktek mengajar).
Jadi, entah kapan itu, pokoknya saya berjanji dalam hati, in syaallah akan kembali lagi kesini untuk menyelesaikan belajar tamyiz level 3 (pendalaman materi Nahwu) dan level 4 (cara mudah mengi’lal).
Jadi, entah kapan itu, pokoknya saya berjanji dalam hati, in syaallah akan kembali lagi kesini untuk menyelesaikan belajar tamyiz level 3 (pendalaman materi Nahwu) dan level 4 (cara mudah mengi’lal).



