1. Keluarga
Rasulullah shallallahu
‘alaihi wasallam bersabda:
“ Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fithrah, maka orang tuanyalah yang(kemudian) menjadikannya Yahudi, Nashrani, atau Majusi.” (HR.Bukhari).
Berdasarkan Hadits diatas dapat difahami bahwa
orang tua adalah orang yang paling bertanggung jawab dengan akhlak
dan perilaku anaknya. Seorang anak bisa menjadi Yahudi,
Nasrani, atau Majusi tergantung dari orang tuanya. karena
pembinaan dari orang tua adalah faktor terpenting dalam memperbaiki dan membentuk
generasi yang baik. Demikian pula kerusakan
moral para remaja saat ini tidak terlepas dari faktor
keluarga.
2. Salah Memilih Teman
Pergaulan itu perlu, tapi tidak asal bergaul
dan banyak teman. Pergaulan yang salah akan menimbulkan masalah. Teman-teman
yang bruk lambat laun akan menghitamkan hati, melemahkan dan menghilangkan rasa
nurani, membuat yang bersangkutan larut dalam memenuhi berbagai keinginan
mereka yang negatif.[1]
Ada pepatah mengatakan “Katakan dengan
siapa kamu bersahabat, maka akan kukatakan siapa kamu”. Tidak salah pepatah
diatas karena memang seseorang dapat dinilai dari dengan siapa ia bersahabat.
Sebagaimana sabda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam,
"Seseorang itu berada dibawah agama temannya. oleh karna itu hendaknya ia melihat dengan siapa dia berteman." (HR.Muslim dan Abu Dawud)
Teman memberikan pengaruh yang luar biasa
kepada remaja. Mereka dapat membuat remaja lebih berani, ramah, atau lebih
egois dan agresif daripada sifat biasanya. Remaja bisa menjadi sosok yang lebih
menurut kepada temannya daripada kepada orang tuanya, dan perkataan teman lebih
berpengaruh daripada perkataan orang tuanya.[2]
Diriwayatkan bahwa seseorang pada suatu hari
ingin memberikan nasihat pada anaknya dengan bukti yang dapat dilihat, yaitu
jeleknya pengaruh bergaul dengan teman yang jahat. Ia memberikan sekotak apel
dan mengeluarkan buah yang busuk dari dalam kotak tersebut. Ia mengangkatnya
dengan tangannya, lalu berkata kepada anaknya, “Lihatlah apa yang akan terjadi
dengan kotak itu setelah beberapa hari.” Dan dia mengembalikan apel busuk itu
ke dalam kotak yang berisi apel baik semuanya. Setelah beberapa hari,
terciumlah bau busuk dari kotak itu. Datanglah bapak dan anak tersebut membuka
tutup kotak yang ada di depannya. Ternyata sebagian besar buahnya telah rusak
dan membusuk. Bapak tersebut berkata, “ Seperti inilah, wahai anakku yang
mulia, keadaan orang-orang yang bergaul dengan orang-orang yang jahat.”
(Muhammad Ali Quthb: 2002)[3]
Ingat! Berteman dengan penjual ikan sudah pasti
kita akan ikut amis, meskipun kita tidak menyentuhnya.
3. Free Sex
Dalam gejolak pancarobanya terutama dalam
pergaulan bebas yang mengglobal, remaja berusaha mendapat apa yang menjadi
dorongan hatinya untuk merasakan seluruh tawanan dunia yang nampak pada
kehidupan sehari-harinya, termasuk masalah seks. Dalam
pergaulan remaja modern, menjelajahi dunia seks bukanlah barang aneh dan susah.
Setiap remaja bisa mendapatkannya dengan mudah dan terbuka, baik bersama
pacarnya atau dengan “jajan” di pinggir jalan.[4]
free sex atau hubungan bebas antara remaja laki-laki
dan perempuana selalu dikaitkan sebagai salah satu bentuk kenakalan remaja yang
biasanya dilakukan oleh remaja usia sekolah dan kuliah. Hal tersebut dapat
dengan mudah kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Padahal Islam
secara jelas mengharamkan perbuatan zina. Sebagaimana
Firman Allah azza wa jalla,
“Dan janganlah kamu mendekati zina; Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. dan suatu jalan yang buruk.” (QS: Al-Israa: 32)
Banyak faktor yang menjerumuskan remaja pada perzinaan –free sex-
diantaranya: kurangnya perhatian orang tua terhadap pendidikan agama anaknya,
sikap orang tua yang masih menganggap tabu tentang pendidikan seks untuk
diketahui remaja, dan semakin maraknya media massa yang menyebarkan informasi
yang berbau porno.
Secara
nasional, 25% dari seluruh remaja putri berusia 15 tahun dan kurang dari 30%
remaja putra berusia 15 tahun mengaku telah berhubungan seks, dibandingkan
dengan 66% remaja putri berusia 18 tahun yang mengaku telah mengalami sexual
intercourse.[5]
Sementara
secara statistik, kehamilan remaja di Indonesia juga cukup parah. Secara
nasional, hampir 1 juta remaja putri di bawah usia 20 tahun hamil setiap tahun.
Itu artinya ada hampir 2800 remaja putri hamil setiap harinya. Sekitar 4 dari
10 remaja putri di Amerika hamil paling sedikit sekali sebelum berusia 20
tahun.[6]
Data-data di
atas adalah gambaran remaja modern. Ironisnya, perbuatan zina –Free Sex-
sepertinya bukanlah suatu hal tabu. Inilah salah satu tanda akhir zaman
sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:
من أشراط السّاعة : أن يرفع العلم و يظهر الجهل ويشرب الخمر ويظهر الزّني...
“Di antara tanda datangnya hari kiamat adalah terangkatnya ilmu, munculnya kebodohan, ditengguknya minuman keras, dan nampaknya perbuatan zina...” (HR. Muttafaqun ‘alaihi)
4.
Terjerat Narkoba
Diantara problematika remaja saat ini yaitu semakin meluas dan bertambahnya
jumlah penyalahgunaan Narkoba. Sebagaimana kita ketahui Narkoba merupakan zat
yang dapat merusak tubuh terutama susunan syaraf pusat/otak sehingga jika
disalahgunakan akan menyebabkan gangguan fisik, psikis/jiwa dan masa depan.
Oleh karena itu Islam dengan tegas mengharamkan zat-zat yang dapat merusak
(zat-zat terlarang). Sebagaimana firman-Nya,
“...dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk...” (QS. Al-A’raf: 157)
[1] Luqman Haqani, Kamu Juga Bisa Gagal,
Bandung: Pustaka Ulumuddin, 2005, hlm 58
[2] Luqman Haqani, Perusak Pergaulan dan
Kepribadiaan Remaja Muslim, Bandung: Pustaka Ulumuddin, 2004, hlm. 79
[3] Luqman Haqani, Kamu Juga
Bisa Gagal, hlm.60
[4] Luqman Haqani, Perusak Pergaulan
dan Kepribadiaan Remaja Muslim, hlm. 47-48
[5] Burhan Sodiq, Karena
Cinta Harus Memilih, Solo: Gazza Media, hlm. 19
[6] Ibid
Tidak ada komentar:
Posting Komentar