Rabu, 30 Desember 2015

PENDIDIKAN KARAKTER METODE LUKMAN



بسم الله الرحمن الرحيم

Luqman terkenal dengan al-Hakim. Al-Hakim adalah orang yang bijaksana, berupa pengetahuan, pemahaman, perkataan serta perbuatan, sehingga dapat mengendalikan diri dari perbuatan jahat, dan bisa menempatkan sesuatu pada tempatnya. Luqman bukan seorang nabi, tetapi ia hamba Allah yang banyak berbuat kebajikan, dan keyakinannya yang lurus. bahkan kisah hidupnya diabadikan dalam Al-Qur’an bahkan dijadikan salah satu nama dalam Al-Qur’an. Nama Lukman disebut dalam al-Qur’an 2 kali, yaitu dalam surat Lukman ayat 12 dan 13.
 
Suatu kali, majikanya berkata kepada Luqman, “Sembelihkan domba ini untuk kami.” Lalu dia menyembelihnya. Si majikan berkata, “Ambillah bagian dagingnya yang terbaik.” Lalu Luqman mengambil lidah dan hati domba. Si majikan diam selama beberapa saat, lalu berkata, “Sembelihkanlah domba yang itu untuk kami, “Lalu Luqman menyembelihnya. Si majikan berkata, “Ambillah bagian daginganya yang terburuk. “Lalu Luqman mengambil lidah dan hati domba. Kemudiaan si majikan berkata, “Aku menyuruhmu mengambil dua bagian daging domba yang terbaik, lalu kamu melaksanakannya dan aku pun menyuruhmu mengeluarkan bagian daging domba yang terburuk, lalu kamu mengambil daging yang sama.” Luqman berkata, “Sesungguhnya tiada perkara yang lebih baik daripada lidah dan hati jika keduanya baik dan tiada perkara yang lebih buruk daripada lidah dan hati jika keduanya buruk.”

Orang tua yang sudah mendapat ilmu hikmah adalah orang tua yang mensyukuri karunia anak yang telah Allah karuniakan kepadanya. Dan bentuk syukur tersebut tidak hanya sekedar ucapan tetapi juga aplikasi.

Untuk menanamkan pendidikan karakter pada anak orang tua harus mengunakan metode yang disebut “Mau’idzoh” sebagimana yang ditanamkan Lukman kepada anaknya. Mau’idzoh berbeda dengan nasihat, nasehat adalah sekumpulan kata-kata bijak yang bernilai baik dan sifatnya hanya amar ma’ruf  sedangkan mau’idzoh adalah nasehat yang didalamnya terdapat targhib wa tarhib (motivasi dan peringatan). 


1.  Bentengi anak dari berbuat syirik

Setiap anak terlahir dalam keadaan bertauhid kepada Allah dan orang tuanyalah yang membuat mereka melakukan kesyirikan. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad;
Dari hadis diatas jelas bahwa orang tua adalah penjahat pertama yang merusak fitrah anak, maka pendidikan pertama yang harus ditanamkan pada anak adalah bentengi mereka dari berbuat syirik.

“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar". (QS. Lukman : 13)

Luqman menjelaskan kepada anaknya, bahwa perbuatan syirik itu merupakan kezaliman yang besar. Syirik dinamakan perbuatan yang zalim, karena perbuatan syirik berarti meletakkan sesuatu bukan pada tempatnya. Yaitu menyamakan kedudukan Allah dengan berhala-berhala yang tidak mempunyai kenikmatan apapun.

 
 2. Mengajarkan Berbuat Baik Kepada Orang Tua “ Birrul Walidain” 

Keberanian anak mendurhakai orang tuanya kadang kala bukan karena kesalahan anak semata. Disana ada andil peran orang tua. Orang tua sering tidak menyadari bahwa mereka telah membentuk sikap durhaka pada anak-anak mereka sendiri. Mereka lupa bahwa anak yang durhaka adalah korban salah asuh di saat anak masih dalam usia dini.[1] Maka dari itu, sudah selayaknya orang tua mengambil hikmah dari metode Lukman dalam mengajarkan berbuat baik kepada kedua orang tua “Birrul Walidain”. Yaitu mendahulukan menanamkan ketaatan mutlak kepada Allah, setelah itu ketaatan kepada orang tua selama tidak bermaksiat kepada Allah. Seperti dalam surat Luqman ayat 14:
“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam Keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. bersyukurlah kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, Maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, Maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. Lukman : 14-15)

Pada ayat ini Allah menceritakan metode pembelajaran Luqman terhadap anak-anaknya tentang keutamaan berbaktinya seorang anak karena kesusahan ayah dan ibunya saat anak masih dalam kandungan, terlebih ibu yang susah yang bertambah-tambah dan kita diwajibkan bersyukur kepada Allah dan kedua orang tua dengan berbakti kepada keduanya. Pengecualian menaati perintah kedua orang tua, jika mereka (orang tua) memaksa terhadap apa yang tidak kamu ketahui hakekatnya, yaitu berbuat syirik kepada Allah. Tetapi tetaplah berbakti kepada keduanya selama tidak bertentangan dengan ajaran agama. Dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik selama mereka hidup dan dalam urusan dunia.
Jangan tanamkan kewajiban taat hanya terhadap orang tua, tapi lanjutkan atau hubungkan dengan ketaatan kepada Allah. Ini akan membuat anak terbiasa taat melakukan perintah, baik saat orang tuanya ada atau tidak, karena ia punya rasa taat kepada Allah yang selalu mengetahui perbuatannya.[2]

3. Mendidik Muroqobatullah
    Dalam surat Luqman ayat 16 
“(Luqman berkata): "Hai anakku, Sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha mengetahui. (QS. Lukman : 16)
Dalam ayat ini terdapat konsep keimanan pada hari akhir. Dari konsep tersebut butuh dua pemahaman untuk menjalankannya dengan baik. Pertama adalah Ihsan, yaitu sikap muraqabatullah di mana manusia itu berada, maka Allah akan mengetahui apa yang dia lakukan maupun niat yang ada dalam hatinya. Kedua adalah tanggung jawab Ilahiyah, di mana seseorang harus bertanggung jawab akan tindakannya selama di dunia di hadapan Allah kelak.


4. Mendirikan Shalat
“Hai anakku, dirikanlah shalat …” (QS. Lukman : 17) 

5. Mengajarkan Amar Ma’ruf Nahi Mugkar Sehingga Menjadi Shalih/Sholihah 
“… Dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar… “(QS. Lukman : 17)

6. Mengajarkan Sabar
“… Dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu Termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).” (QS. Lukman : 17)

7.   Tanamkan Tawadhu’ Jangan Sombong
Ÿ“Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS. Lukman : 18)
     Ayat di atas menjelaskan tentang larangan berbuat sombong.

8.  Ajarkan cara bersikap
    sederhanalah dalam berjalan, jangan terlalu tergesa-gesa dan jangan terlalu lamban 
Dan sederhanalah kamu dalam berjalan…” (QS. Lukman : 19)

9. Ajarkan Pola Komunikasi    
“Dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.” (QS. Lukman : 19)
    Sederhana ketika berbicara yaitu merendahkan suara, jangan mengeraskan suara apabila tidak perlu, karena sikap demikian itu lebih berwibawa bagi yang melakukanya. Sesungguhnya suara yang paling buruk dan paling jelek adalah suara keledai.



[1] Mendidik dengan Cinta “Tumbuh Kembang Anak”, Irawati Istandi, Jakarta: Cakrawala Publishing, 2014, Hal. 37
[2] Ibid, Hal. 39

Tidak ada komentar:

Posting Komentar