بسم الله الرحمن الرحيم
Luqman terkenal dengan al-Hakim. Al-Hakim adalah orang yang
bijaksana, berupa pengetahuan, pemahaman, perkataan serta perbuatan, sehingga
dapat mengendalikan diri dari perbuatan jahat, dan bisa menempatkan sesuatu
pada tempatnya. Luqman bukan seorang nabi, tetapi ia hamba Allah yang banyak
berbuat kebajikan, dan keyakinannya yang lurus. bahkan kisah hidupnya
diabadikan dalam Al-Qur’an bahkan dijadikan salah satu nama dalam Al-Qur’an.
Nama Lukman disebut dalam al-Qur’an 2 kali, yaitu dalam surat Lukman ayat 12
dan 13.
Suatu kali, majikanya berkata kepada Luqman, “Sembelihkan domba ini
untuk kami.” Lalu dia menyembelihnya. Si majikan berkata, “Ambillah bagian
dagingnya yang terbaik.” Lalu Luqman mengambil lidah dan hati domba. Si majikan
diam selama beberapa saat, lalu berkata, “Sembelihkanlah domba yang itu untuk
kami, “Lalu Luqman menyembelihnya. Si majikan berkata, “Ambillah bagian
daginganya yang terburuk. “Lalu Luqman mengambil lidah dan hati domba.
Kemudiaan si majikan berkata, “Aku menyuruhmu mengambil dua bagian daging domba
yang terbaik, lalu kamu melaksanakannya dan aku pun menyuruhmu mengeluarkan
bagian daging domba yang terburuk, lalu kamu mengambil daging yang sama.”
Luqman berkata, “Sesungguhnya tiada perkara yang lebih baik daripada lidah dan
hati jika keduanya baik dan tiada perkara yang lebih buruk daripada lidah dan
hati jika keduanya buruk.”
Orang tua yang sudah mendapat ilmu hikmah adalah orang tua yang
mensyukuri karunia anak yang telah Allah karuniakan kepadanya. Dan bentuk
syukur tersebut tidak hanya sekedar ucapan tetapi juga aplikasi.
Untuk menanamkan pendidikan karakter pada anak orang tua harus
mengunakan metode yang disebut “Mau’idzoh” sebagimana yang ditanamkan Lukman
kepada anaknya. Mau’idzoh berbeda dengan nasihat, nasehat adalah sekumpulan
kata-kata bijak yang bernilai baik dan sifatnya hanya amar ma’ruf sedangkan mau’idzoh adalah nasehat
yang didalamnya terdapat targhib wa tarhib (motivasi dan peringatan).
1.
Bentengi anak
dari berbuat syirik
Setiap anak terlahir dalam keadaan bertauhid
kepada Allah dan orang tuanyalah yang membuat mereka melakukan kesyirikan.
Sebagaimana sabda Nabi Muhammad;
Dari hadis diatas jelas bahwa orang
tua adalah penjahat pertama yang merusak fitrah anak, maka pendidikan pertama
yang harus ditanamkan pada anak adalah bentengi mereka dari berbuat syirik.
“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar". (QS. Lukman : 13)
Luqman menjelaskan kepada anaknya,
bahwa perbuatan syirik itu merupakan kezaliman yang besar. Syirik dinamakan
perbuatan yang zalim, karena perbuatan syirik berarti meletakkan sesuatu bukan
pada tempatnya. Yaitu menyamakan kedudukan Allah dengan berhala-berhala yang
tidak mempunyai kenikmatan apapun.
2. Mengajarkan
Berbuat Baik Kepada Orang Tua “ Birrul Walidain”
Keberanian anak mendurhakai orang tuanya kadang kala bukan karena kesalahan anak semata. Disana ada andil peran orang tua. Orang tua sering tidak menyadari bahwa mereka telah membentuk sikap durhaka pada anak-anak mereka sendiri. Mereka lupa bahwa anak yang durhaka adalah korban salah asuh di saat anak masih dalam usia dini.[1] Maka dari itu, sudah selayaknya orang tua mengambil hikmah dari metode Lukman dalam mengajarkan berbuat baik kepada kedua orang tua “Birrul Walidain”. Yaitu mendahulukan menanamkan ketaatan mutlak kepada Allah, setelah itu ketaatan kepada orang tua selama tidak bermaksiat kepada Allah. Seperti dalam surat Luqman ayat 14:
Keberanian anak mendurhakai orang tuanya kadang kala bukan karena kesalahan anak semata. Disana ada andil peran orang tua. Orang tua sering tidak menyadari bahwa mereka telah membentuk sikap durhaka pada anak-anak mereka sendiri. Mereka lupa bahwa anak yang durhaka adalah korban salah asuh di saat anak masih dalam usia dini.[1] Maka dari itu, sudah selayaknya orang tua mengambil hikmah dari metode Lukman dalam mengajarkan berbuat baik kepada kedua orang tua “Birrul Walidain”. Yaitu mendahulukan menanamkan ketaatan mutlak kepada Allah, setelah itu ketaatan kepada orang tua selama tidak bermaksiat kepada Allah. Seperti dalam surat Luqman ayat 14:
“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam Keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. bersyukurlah kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, Maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, Maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. Lukman : 14-15)
Pada ayat ini Allah menceritakan metode pembelajaran Luqman terhadap anak-anaknya tentang keutamaan berbaktinya seorang anak karena kesusahan ayah dan ibunya saat anak masih dalam kandungan, terlebih ibu yang susah yang bertambah-tambah dan kita diwajibkan bersyukur kepada Allah dan kedua orang tua dengan berbakti kepada keduanya. Pengecualian menaati perintah kedua orang tua, jika mereka (orang tua) memaksa terhadap apa yang tidak kamu ketahui hakekatnya, yaitu berbuat syirik kepada Allah. Tetapi tetaplah berbakti kepada keduanya selama tidak bertentangan dengan ajaran agama. Dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik selama mereka hidup dan dalam urusan dunia.
Jangan tanamkan kewajiban taat hanya terhadap orang tua, tapi
lanjutkan atau hubungkan dengan ketaatan kepada Allah. Ini akan membuat anak
terbiasa taat melakukan perintah, baik saat orang tuanya ada atau tidak, karena
ia punya rasa taat kepada Allah yang selalu mengetahui perbuatannya.[2]
3. Mendidik Muroqobatullah
Dalam surat
Luqman ayat 16
“(Luqman berkata): "Hai anakku, Sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha mengetahui. (QS. Lukman : 16)
Dalam ayat ini
terdapat konsep keimanan pada hari akhir. Dari konsep tersebut butuh dua
pemahaman untuk menjalankannya dengan baik. Pertama adalah Ihsan, yaitu sikap
muraqabatullah di mana manusia itu berada, maka Allah akan mengetahui apa yang
dia lakukan maupun niat yang ada dalam hatinya. Kedua adalah tanggung jawab
Ilahiyah, di mana seseorang harus bertanggung jawab akan tindakannya selama di
dunia di hadapan Allah kelak.
4. Mendirikan Shalat
“Hai anakku, dirikanlah shalat …” (QS. Lukman : 17)
5. Mengajarkan Amar Ma’ruf Nahi Mugkar Sehingga
Menjadi Shalih/Sholihah
“… Dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar… “(QS. Lukman : 17)
6. Mengajarkan Sabar
“… Dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu Termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).” (QS. Lukman : 17)
7.
Tanamkan Tawadhu’ Jangan Sombong
“Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS. Lukman : 18)
Ayat di atas
menjelaskan tentang larangan berbuat sombong.
8.
Ajarkan cara bersikap
sederhanalah dalam berjalan, jangan terlalu tergesa-gesa dan jangan
terlalu lamban
“Dan sederhanalah kamu dalam berjalan…” (QS. Lukman : 19)
9. Ajarkan Pola Komunikasi
“Dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.” (QS. Lukman : 19)
Sederhana
ketika berbicara yaitu merendahkan
suara, jangan mengeraskan suara apabila tidak perlu, karena sikap demikian itu
lebih berwibawa bagi yang melakukanya. Sesungguhnya suara yang paling buruk dan
paling jelek adalah suara keledai.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar