Mendengar namanya, para penyamun
dari suku-suku Badui di kawasan Jazirah Arab langsung tunggang langgang
melarikan diri. Hingga demikian tak satu pun dapat lolos dari kejarannya.
Inilah kesatria dari suku Bani Tamim, Al-Qa’qa’ bin Amr At-Tamimi.
Al-Qaqa bin Amr ini
memang dikenal di kalangan kaumnya sebagai kesatria yang hebat. Keahliannya
dalam memainkan pedang dan seni perang serta keahliannya berkuda tak ada yang
meragukan kemampuannya ini. Inilah keahlian yang menjadi kebanggaan setiap pria
di Jazirah Arab. Keahliannyalah yang mengantarkan dirinya menempati posisi
terhormat di kalangan kaumnya dan suku-suku lain.
Pada tahun 9 H, di
suasana yang tenang ini, suku-suku Arab terus berbondong-bondong mendatangi
Rasulullah di Madinah. Berbaiat menyatakan sumpah setia memeluk Islam, termasuk
suku Tamim. Al-Qa'qa' bin Amr yang memang seorang kesatria dan ahli dalam
bidang syair di kalangan suku Tami mini, seperti mendapatkan pengalaman baru
saat melihat fenomena yang langka ini—bahkan tak pernah terjadi—yang
menyejukkan jiwanya di Masjid Nabawi. Lantunan ayat-ayat Al-Qur’an membuatnya
tertegun. Inilah awal pengalaman spiritual dari seorang kesatria yang hebat,
Al-Qa'qa' bin Amr.
Maka saat ia bersama
rombongan suku Tamim bertatap muka dengan Rasulullah, jiwanya bergetar.
Pancaran keagungan Rasul dan untaian katanya mengetuk jiwa Al-Qa'qa' bin Amr.
Hatinya pun mulai terbuka untuk menerima hidayah Ilahi. Saat itulah tanpa ragu
Al-Qa'qa' bin Amr berikrar dan bersyahadat di depan Rasulullah. Sekembalinya
dari Madinah, Al-Qa'qa' bin Amr bersama keluarga dan kaumnya memeluk Islam.
Sayang, Al-Qa'qa' bin Amr tak sempat untuk ikut serta dalam menunaikan
ibadah haji wada’ karena harus merawat ibunya yang menderita sakit.
Namun begitu, hatinya
selalu diliputi kerinduan yang mendalam untuk belajar dan mengabdi kepada
Rasulullah di Madinah. Sejak berada di Madinah, Al-Qa'qa' bin Amr tak pernah
absen untuk menghadiri majelis Rasulullah. Ia sadar dirinya memeluk Islam
dengan sangat terlambat.
Sebagai seorang kesatria
suku Tamim, Al-Qa'qa' bin Amr mendapat tugas melatih seni militer kaum
Muslimin di kawasan luar kota Madinah. Inilah pasukan yang dipersiapkan oleh
Rasulullah di akhir hayatnya. Sebuah pasukan yang dipimpin sahabat termuda Usamah
bin Zaid.
Namun kebersamaan
Al-Qa'qa' bin Amr dengan Rasulullah tak beralangsung lama. Pada tahun 11 H,
Rasulullah wafat menghadap Allah Yang Maha Esa. Dan inilah yang membuat dirinya
larut dalam kesedihan bersama sahabat-sahabat Rasulullah yang lain.
Di masa pemerintahan Abu
Bakar yang menjadi khalifah pertama dalam Islam ini, Al-Qa'qa' bin Amr
tampil cemerlang di berbagai medan jihad. Hingga akhirnya Al-Qa'qa' bin
Amr menjadi satu-satunya orang yang dikirim oleh khalifah Abu Bakar
sebagai bala bantuan kepada Khalid yang tengah menghadapi kesulitan, karena
sebagian besar pasukannya memilih untuk beristirahat daripada berperang melawan
Persia. Di sinilah ketangkasan Al-Qa'qa' bin Amr benar-benar teruji
seperti yang dikatakan oleh khalifah Abu Bakar, “Seorang qaqa berbanding
dengan 1.000 pasukan.” Kaum Muslimin pun meraih kemenangan gemilang dan
berhasil menguasai kawasan Hirah di Iraq.
Nama Al-Qa'qa' bin Amr
semakin menjadi perbincangan di kalangan kaum Muslimin setelah dirinya
membuat gentar pasukan Romawi dalam Perang Yarmuk di Syam. Bersama Ikrimah bin
Abu Jahal, Al-Qa'qa' bin Amr berhasil membakar semangat kaum Muslimin
dalam menghadapi pasukan Romawi, hingga akhirnya meraih kemenangan. Kemenangan
yang tercatat dalam sejarah Islam sebagai tonggak yang membuka gerbang bagi
penaklukan-penaklukan Muslimin di luar Jazirah Arab.
Pada tahun 13 H, di suasana yang mengharukan ini, khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq meninggal dunia menghadap Allah Yang Maha Esa. Selanjutnya, kekhalifahan pun beralih ke tangan Umar bin Al-Khattab yang menjadi khalifah kedua dalam Islam. Amirul Mukminin Umar pun mengirim bala bantuan untuk pasukan Sa’ad bin Abu Waqqash untuk menaklukkan kota Madain, tempat singgasana Raja Persia ini dan sekaligus menjadi ibukota Persia. Amirul Mukminin Umar mengirim Al-Qa'qa' bin Amr yang tengah berada di Syam yang sedang berperang melawan pasukan Romawi agar bergerak ke Iraq menyusul pasukan yang dipimpin oleh Sa’ad bin Abu Waqqash.
Qadisiyah merupakan kawasan
yang menjadi gerbang menuju benteng Jalaula yang merupakan benteng kota Madain,
ibukota Persia. Di Qadisiyah ini, Kaum Muslimin terlibat pertempuran yang
sangat dahsyat melawan pasukan Persia. Al-Qa'qa' bin Amr yang baru tiba di
medan qadisiyah ini, langsung menggebrak hingga membuat nyali Persia menjadi
ciut.
Sa’ad bin Abu Waqqash
yang tengah menderita sakit dan hanya bisa mengatur pertempuran di sebuah tenda
besar, segera memberi perintah kepada Al-Qa'qa' bin Amr dan saudaranya, Asim
untuk menangani gajah putih yang selalu membuat kekacauan di barisan kaum
Muslimin.
Benar saja, dengan
ketangkasannya Al-Qa'qa' bin Amr dan saudaranya berhasil melempar tombak tepat
mengenai sasarannya, yaitu di kedua mata gajah itu. Inilah yang mengawali kemenangan
kaum Muslimin dalam perang yang menentukan atas kemenangan melawan pasukan
Persia.
Al-Qa'qa' bin Amr
kemudian bergerak ke benteng jalaula yang merupakan gerbang Madain. Di medan
jalaula ini, Al-Qa'qa' bin Amr kembali memperlihatkan taringnya sebagai ahli
perang. Dia dan pasukannya dari suku Tamim kembali mendobrak musuh hingga
membuat Persia terkesima dengan kehebatannya.
Akhirnya dengan jatuhnya
benteng jalaula ini, secara praktis membuat kaum Muslimin dengan mudah
menaklukkan kota Istana Putih ini yang merupakan tempat singgasana Raja
Persia. Dengan begitu, secara otomatis negeri yang kaya raya ini jatuh ke
tangan kaum Muslimin.
Al-Qa'qa' bin Amr memang
kesatria tanpa tanding. Namun, berkat kecerdasan dan ketulusannya terhadap
agama, membuat dirinya semakin mantap dan sempurna. Itulah mengapa khalifah
Utsman bin Affan mengangkatnya sebagai seorang gubernur di Armenia.
Ketegasannya sebagai pemimpin menjadi modal utamanya untuk berlaku adil dalam
menghadapi berbagai masalah yang terjadi di masyarakatnya.
Sejak wafatnya khalifah
utsman bin Affan, Al-Qa'qa' bin Amr tetap setia mengabdi kepada khalifah yang
dibaiat kaum Muslimin. Itulah mengapa ia begitu setia menjadi pendamping Ali
bin Abu Thalib dan terus mengawal kekhalifahan yang sah yang dibaiat kaum
Muslimin.
Al-Qa'qa' bin Amr adalah
orang yang sangat rajin untuk mengasah kemampuan dirinya sehingga dia menjadi
orang yang hebat di lapangan. Mungkin Al-Qa'qa' bin Amr tidak dikenal sebagai
ahli ilmu dan ahli Al-Qur’an, tetapi Al-Qa'qa' bin Amr benar-benar hadir
sebagai orang yang mempunyai keistimewaan di mana orang lain susah mencari
keistimewaan itu. Hal itu harus kita miliki, karena kita mungkin tidak menguasai
banyak hal, tetapi kuasailah satu hal saja yang menurut kita, kita mampu
melakukannya yang dengan itu kelak kita akan dengan mudah menjawab pertanyaan
Allah saat kita hadir di hadapan-Nya bahwa kita adalah orang yang bermanfaat
bagi orang lain.
Berakhirnya masa
kekhalifahan Hasan bin Ali, dan beralihnya kekhalifan ke tangan Mu’awiyah bin
Abu Sufyan, Al-Qa'qa' bin Amr memutuskan untuk mengndurkan diri dan pindah ke
wilayah Mesir, hingga ia wafat pada tahun 40 H. Dialah potret Muslim yang
sejati yang mengedepankan keberanian, kejujuran, dan ketulusan serta
kesetiaannya kepada agama yang diridhai oleh Allah ini dan kepada Rasulullah.
semoga Allah meridhaimu wahai Al-Qa'qa' bin Amr.
Sumber: Khalifah Trans 7


Tidak ada komentar:
Posting Komentar