I.
PENDAHULUAN
Kehadiran
orang-orang Islam di Spanyol merupakan awal munculnya Islam di benua Eropa
karena Spanyol merupakan pintu gerbang bagi benua tersebut. Penaklukan Islam ke
Wilayah Barat (dalam hal ini Eropa bagian Barat) terjadi pada masa kekhilafahan
Bani Umayyah dengan khalifah Al-Walid bin Ibnu Malik.
Dalam proses
penaklukan Spanyol ini ada tiga orang pahlawan islam yang dapat dikatakan
paling berjasa memimpin pasukan kesana. Mereka adalah Tharif bin Malik[1],
Thariq bin Ziyad[2],
Musa bin Nusair[3].
Setelah masuknya Islam di Spanyol maka banyaklah kemajuan-kemajuan yang
diperoleh dan hal ini dapat di lihat dari banyaknya tokoh-tokoh dan para
ilmuwan yang muncul dari sana. Namun setelah berabad-abad lamanya Islam
menguasai Spanyol, Islam mulai mengalami kemunduran dan kehancuran, bahkan
kemudian Islam hilang dari bumi tersebut.
II.
PEMBAHASAN
A. Masuknya
Islam ke Spanyol
Spanyol diduduki umat Islam pada zaman Khalifah Al-
Walid [105-715 M], salah seorang khalifah dari Bani Umayah yang berpusat di
Damaskus. Sebelum penaklukan Spanyol, umat Islam telah menguasai Afrika Utara
dan menjadikannya sebagai salah satu propinsi dari dinasti Bani Umayah. [4]
Spanyol pada masa itu
diperintah oleh raja bernama Ghaitasyah (Witiza) yang merupakan sekutu dari
Julian. Raja ini digulingkan dari singgasananya dalam sebuah revolusi yang
dilakukan sekelompok pendukung Roderic –seorang kerabat raja-, hingga hal ini
mengorbankan semangat pengikut dan putra-putranya untuk merebut kembali
kekuasaan dari para pemberontak. Sejak itu mulai timbul gerakan separatis di
pelosok negeri yang terus berlangsung hingga tibanya kaum muslimin di bumi
Andalusia.[5]
Pada Ramadhan tahun
91 H, Musa bin Nushair mengutus seorang Barbar bernama Tharif, bersama 100
personal kavaleri (pasukan berkuda) dan 400 personal pasukan infanteri (pasukan
bersenjata). Dengan menaiki empat buah kapal laut, mereka menyebrangi laut
hingga sampai ke lepas pantai Andalusia yang mengarah ke Tangier. Saat ini,
tempat mereka singgah dinamakan Pulau Tharif sesuai dengan nama
panglimanya. Kemudian Tharif bersama pasukannya menyerang wilayah sekitar
hingga ke Al-Jazirah Al-Khadhra’ (Green Land) dan memperoleh banyak
harta dan tawanan, lalu kembali dengan selamat.
Pada Rajab 92 H,
Musa mempersiapkan pasukan terdiri dari bangsa Arab dan Barbar yang berjumlah
7.000 tentara di bawah pimpinan Thariq bin Ziyad. Lalu pasukan ini menyebrangi
lautan dari Sabtah dengan menggunakan kapal laut milik Count Julian dan
menginjakkan kaki di sebuah gunung bebatuan di seberang lautan. Gunung ini
sampai sekarang dinamakan sesuai nama Thariq, yaitu Gunung Thariq atau Gibraltar.
Pada saat yang
bersamaan, Roderic bersama pasukan besarnya bergerak untuk membendung kaum
muslimin. Lantas Thariq mengirimkan surat kepada Musa berisi bahwa Roderic
menghadangnya padahal ia tidak memiliki kekuatan untuk menghadapinya. Musa
mengirimkan pasukan tambahan sebanyak 5.000 personil dipimpin oleh Tharif bin
Malik. Mayoritas pasukan tambahan ini kavaleri. Dengan demikian jumlah tentara
Thariq menjadi 12.000 prajurit. Namun jumlah ini belum sebanding dengan pasukan
Gothik yang jauh lebih besar, 100.000 orang.
Berbagai kemenangan
terus diperoleh Thariq bin Ziyad hingga dapat menaklukan Cartagena (kota di
Andalusia). Setelah itu Thariq bergerak ke arah barat dan menaklukan kota-kota
sekitar Cartagena serta mendirikan pangkalan militer di sebuah tempat mengarah
ke Al-Jazirah Al-khadhra’ (Green Land).
[6]
Kemenangan-kemenangan yang dicapai umat Islam nampak
begitu mudah. Hal itu tidak dapat dipisahkan dari adanya faktor eksternal dan
internal yang menguntungkan.
Yang dimaksud dengan faktor eksternal adalah suatu kondisi yang terdapat
didalam negeri Spanyol itu sendiri. Pada masa penaklukan Spanyol oleh
orang-orang Islam, kondisi sosial, politik, dan ekonomi negeri ini berada dalam
keadaan menyedihkan.
Adapun yang dimaksud dengan faktor internal adalah
suatu kondisi yang terdapat dalam tubuh penguasa, tokoh-tokoh pejuang dan para
prajurit islam yang terlibat dalam penaklukan wilayah Spanyol pada khususnya.
Para pemimpin adalah tokoh-tokoh yang kuat, tentaranya kompak, bersatu dan
penuh percaya diri.
Mereka pun cakap, berani, dan tabah dalam menghadapi
setiap persoalan. Yang tak kalah pentingnya adalah ajaran Islam yang
ditunjukkan para tentara Islam, yaitu toleransi, persaudaraan, dan
tolong-menolong. Sikap toleransi agama dan persaudaraan yang terdapat dalam
pribadi kaum muslimin itu menyebabkan penduduk Spanyol menyambut kehadiran
Islam di sana.[7]
B.
Perkembangan Islam di Spanyol
Sejarah panjang yang dilalui umat Islam di Spanyol
itu dapat dibagi menjadi enam periode, yaitu[8]:
1.
Periode Pertama [711-755
M]
Spanyol
berada di bawah pemerintahan para wali yang diangkat oleh khalifah Bani Umayah
yang berpusat di Damaskus. Pada periode ini stabilitas politik negeri Spanyol
belum tercapai secara sempurna, gangguan-gangguan
masih terjadi, baik datang dari dalam maupun dari luar.
Gangguan
dari dalam antara lain berupa perselisihan di antara elite penguasa, terutama
akibat perbedaan etnis dan golongan. Masing-masing
mengaku bahwa merekalah yang paling berhak menguasai daerah Spanyol ini.
Sedangkan
gangguan
dari luar datang dari sisa-sisa
musuh Islam di Spanyol yang bertempat tinggal di daerah-daerah pegunungan yang
memang tidak pernah tunduk kepada pemerintahan Islam.
Karena
seringnya terjadi konflik internal dan berperang menghadapi musuh luar, maka dalam periode ini belum
memasuki kegiatan pembangunan di bidang peradaban dan kebudayaan.
2.
Periode Kedua [755-912 M]
Pada periode ini, Spanyol berada di bawah
pemerintahan seorang yang bergelar amir [panglima atau gubernur]. Tetapi tidak tunduk kepada pusat
pemerintahan Islam, yang ketika itu dipegang oleh khalifah Abbasiyah di Bagdad.
Pada periode ini, umat Islam Spanyol mulai memperoleh kemajuan-kemajuan. Baik dalam bidang politik maupun dalam
bidang peradaban. Penguasa pada
periode ini di antaranya adalah:
a)
Abdurrahman al-Dakhil, berhasil mendirikan masjid
Cordova dan sekolah-sekolah di kota-kota besar Spanyol.
b)
Hisyam I, berjasa dalam menegakkan hukum Islam.
c)
Hakam I, sebagai pembaharu dalam bidang
kemiliteran.
d)
Abdurrahman al-Ausath, dikenal sebagai penguasa yang cinta
ilmu.
e)
Muhammad bin Abdurrahman
f)
Munzir bin Muhammad
g)
Abdullah bin Muhammad
Pada pertengahan abad
ke-9 stabilitas negara terganggu dengan munculnya
gerakan Kristen fanatik yang mencari kesyahidan [Martyrdom]. Juga gangguan politik yang serius yang datang dari umat Islam itu sendiri. Golongan pemberontak di
Toledo pada tahun 852 M membentuk Negara kota yang berlangsung selama 80 tahun.
Di samping itu sejumlah orang yang tak puas membangkitkan revolusi.
3.
Periode Ketiga [912-1013 M ]
Dimulai
oleh Abdurrahman an-Nashir, Spanyol di bawah pemerintahan bergelar Khalifah
(mulai tahun 929 M). Bermula dari berita terbunuhnya Khalifah al-Muqtadir
oleh pengawalnya sendiri, menurutnya ini
saat yang tepat untuk memakai gelar Khalifah setelah 150 tahun lebih hilang
dari kekuasaan Bani Umayyah. Khalifah yang memerintah pada periode ini antara
lain:
a. Abdurrahman al-Nashir (912-961 M)
mencapai puncak kemajuan menyaingi
kemajuan Daulah Bani Abbasiyah di Baghdad. Ia mendirikan Universitas Cordova
yang perpustakaannya memiliki koleksi ratusan ribu buku.
b. Hakam II (961-976 M) seorang kolektor
buku dan pendiri perpustakaan. Masyarakat menikmati kesejahteraan dan
kemakmuran karena pembangunan yang berlangsung cepat.
c.
Hisyam II (976-1009 M) awal dari kehancuran khalifah Bani
Umayyah di Spanyol adalah ketika Hisyam naik tahta dalam usia sebelas tahun. Ia menunjuk Ibn Abi ‘Amir (al-Manshur
Billah) sebagai pemegang kekuasaan mutlak. Ia sangat ambisius dalam melebarkan
kekuasaannya. Ia wafat tahun 1002 M dan digantikan anaknya, al-Muzaffar yang
masih dapat mempertahankan kekuasaan. Setelah wafat tahun 1008 M, digantikan
adiknya yang tidak memiliki kualitas sehingga negara menjadi kacau dan hancur
sehingga muncul kerajaan-kerajaan kecil. Hisyam II mengundurkan diri tahun 1009
M dan tahun 1013 M Dewan Menteri yang memerintah Cordova menghapus jabatan
Khalifah.
4.
Periode Keempat [1013-1086 M]
Pada periode ini, Spanyol terpecah menjadi lebih
dari tiga puluh negara kecil di bawah pemerintahan Al-Mulukuth-Thawaif (raja-raja
golongan). Umat
Islam Spanyol kembali memasuki masa pertikaian intern. Ironisnya, kalau terjadi
perang saudara, ada di antara pihak-pihak yang bertikai itu yang meminta
bantuan kepada raja-raja kristen. Melihat
kelemahan dan kekacauan yang menimpa keadaan politik Islam itu, untuk pertama
kalinya orang-orang kristen pada periode ini mulai mengambil inisiatif penyerangan.
Mekipun kehidupan politik tidak stabil, namun kehidupan
intelektual terus berkembang pada periode ini. Istana-istana mendorong para
sarjana dan sasterawan untuk mendapatkan perlindungan dari satu istana ke istana
yang lain.
5.
Periode Kelima [1086-1248 M]
Meskipun masih
terpecah dalam beberapa negara, tetapi terdapat satu kekuatan yang didominasi,
yaitu kekuasaan dinasti Murabithun[9]
[1086-1143 M] dan dinasti Muwahhidun[10]
[1146-1235 M].
Kondisi Spanyol kembali semakin tidak menentu dan
tidak terkendali, karena
berada di bawah penguasa-penguasa
kecil. Umat
Islam tidak mampu bertahan dari serangan-serangan Kristen yang semakin besar.
Pada tahun 1238 M Cordova jatuh ke tangan penguasa Kristen dan Seville jatuh
pada tahun 1248. Dengan demikian seluruh Spanyol lepas dari kekuasaan Islam,
kecuali Granada
6.
Periode Keenam [1248-1492
M]
Pada
periode ini, Islam hanya berkuasa di daerah Granada, di bawah dinasti Bani Ahmar
[1232-1492]. Peradaban Islam kembali mengalami kemajuan seperti di zaman
Abdurrahman An-Nasir. Akan tetapi, secara politik dinasti ini hanya berkuasa di
wilayah yang kecil. Kekuasaan Islam yang merupakan pertahanan terakhir di
Spanyol ini juga berakhir, karena perselisihan kalangan istana dalam perebutan
kekuasaan. Abu Abdullah Muhammad tidak senang pada ayahnya yang menunjuk
anaknya yang lain menggantikan sebagai raja. Ayahnya terbunuh dan diganti
Muhammad bin Sa’ad. Abu Abdullah pun meminta bantuan Raja Ferdinand dan
Isabella yang akhirnya ia naik tahta. Kemudian kondisi ini di manfaatkan oleh umat kristen untuk merebut
kekuasaan terakhir umat Islam di Spanyol. Namun Ferdinand
dan Isabella ingin merebut kekuasaan Islam dan dengan terus menyerang kekuasaan
Islam. Abu Abdullah menyerah dan hijrah ke
Afrika Utara.
Dengan demikian, berakhirlah kekuasaan Islam di
Spanyol pada tahun 1492M. Umat Islam setelah itu dihadapkan kepada dua pilihan,
masuk Kristen atau pergi meninggalkan Spanyol. Maka pada tahun 1609 M, dapat dikatakan
tiadak ada lagi umat Islam di daerah ini.
C.
Kemajuan Peradaban
Islam di Spanyol lebih dari tujuh abad dan umat
Islam telah mencapai kejayaannya di Spanyol. Banyak kemajuan dan prestasi yang
diperoleh umat Islam di Spanyol, bahkan pengaruhnya membawa Eropa dan dunia,
kepada kemajuan yang lebih kompleks.
1. Kemajuan
Intelektual
Masyarakat Spanyol Islam merupakan masyarakat
majemuk yang terdiri dari:
-
Komunitas-komunitas
Arab [Utara dan Selatan]
-
Al-Muwalladun
[orang-orang
Spanyol yang masuk Islam]
-
Barbar [umat Islam yang berasal dari
Afrika Utara]
- Al-Shaqalibah
[penduduk
daerah antara Konstanstinopel dan Bulgaria yang menjadi tawanan Jerman dan
dijual kepada penguasa Islam untuk dijadikan tentara bayaran]
-
Yahudi
-
Kristen Muzareb yang berbudaya Arab
-
dan Kristen yang masih menentang
kehadiran Islam
Semua komunitas itu, kecuali yang terakhir, memberikan
saham intelektual terhadap terbentuknya lingkungan budaya Andalusia yang
melahirkan kebangkitan ilmu pengetahuan, sastra dan pembangunan fisik di Spanyol. Untuk itu, perlu mengkaji kemajuan yang
dicapai umat Islam Spanyol, sebagai berikut :
a.
Bidang Filsafat
Minat terhadap filsafat dan ilmu pengetahuan mulai
dikembangkan pada abad ke-9 M selama pemerintahan dinasti Bani Umayyah yang
ke-5 Muhammad ibn Abd al-Rahman [832-886 M].
Atas inisiatif al-Hikam [961-976 M], karya-karya
ilmiah dan filosofis diimpor dari Timur
dalam jumlah besar, sehingga Cordova dengan perpustakaan dan universitas-universitasnya
mampu menyaingi Baghdad sebagai pusat utama ilmu pengetahuan di dunia Islam.
Pada perkembangan selanjutnya, lahirlah tokoh utama
pertama dalam sejarah filsafat Arab-Spanyol adalah Abu Bakr Muhammad ibn
al-Sayigh yang lebih dikenal dengan ibn Bajjah. Kemudian Al-Farabi dan ibn Sina di
Timur.
Tokoh utama kedua adalah Abd Bakr ibn Thufail,
penduduk asli Wadi Asy, sebuah dusun kecil di sebelah timur Granada
Pada bagian akhir abad ke-12 M, menjadi saksi
munculnya seorang pengikut Aristoteles yang terbesar di gelanggang filsafat
dalam Islam, yaitu Ibn Rusyd dari Cordova.
b.
Bidang Sains
Ilmu-ilmu kedokteran, musik, matematika, astronomi,
kimia dan lain-lain juga berkembang dengan baik. Abbas ibn Farnas, termasyhur
dalam ilmu kimia dan astronomi. Abbas ibn Farnas, adalah orang pertama yang
menemukan pembuatan kaca dari batu.
Ibrahim ibn Yahya al-Naqqash, terkenal dalam ilmu astronomi. Ia dapat
menentukan waktu terjadinya gerhana matahari dan menentukan berapa lamanya.
al-Naqqash, juga berhasil membuat teropong modern yang dapat menentukan jarak
antara tata surya dan bintang-bintang. Ahmad ibn Ibas dari Cordova adalah ahli
dalam bidang obat-obatan. Umm al-Hisan bint Abi Ja’far dan saudara perempuannya
al-Hafidz adalah dua orang ahli kedokteran dari kalangan wanita.
Dalam bidang sejarah dan geografi, wilayah Islam
bagian barat melahirkan banyak pemikir terkenal. Ibn Jubair dari Valencia dan
Ibn Batuthah dari Tangier,
Ibn al-Khatib. Itulah
sebagai nama-nama besar dalam bidang sains yang terkenal pada masanya di Islam
Spanyol.
c.
Bidang Fikih
Dalam bidang fikih, Spanyol Islam dikenal sebagai penganut
mazhab Maliki. Orang yang membawa dan memperkenalkan mazhab ini di Spanyol
adalah Ziyad ibn Abd al-Rahman. Kemudian perkembangan selanjutnya ditentukan
oleh Ibn Yahya yang menjadi qadhi pada masa Hisyam ibn Abd al-Rahman.
Ahli-ahli fikih lainnya di antaranya adalah Abu Bakar ibn al-Quthiyah, Munzir
ibn Sa’id al-Baluthi dan Ibn Hazm yang terkenal.
d.
Bidang Musik dan Kesenian
Dalam bidang musik dan seni suara, Spanyol Islam
mencapai kecemerlangan dengan tokohnya al-Hasan ibn Nafi yang dijuluki Zaryab..
Ia juga terkenal sebagai penggubah lagu. Ilmu yang dimilikinya itu diturunkan kepa anak-anaknya baik pria
maupun wanita, dan juga kepada budak-budak,
sehingga kemasyhurannya tersebar luas.
e.
Bidang Bahasa dan Sastra
Bahasa Arab telah menjadi bahasa administrasi dalam
pemerintahan Islam di Spanyol. Hal itu dapat diterima oleh orang-orang Islam
dan non-Islam. Bahkan, penduduk asli Spanyol menomorduakan bahasa asli mereka. Mereka
juga banyak ahli dan mahir dalam bahasa Arab, baik keterampilan berbicara
maupun tata bahasa. Mereka-mereka itu antara lain: Ibn Sayyidih, Ibn Malik
pengarang Alfiyah, Ibn Khuruf, Ibn al-Hajj, Abu Ali al-Isybili, Abu
al-Hasan ibn Usfur, dan Abu Hayyan al-Gharnathi.
2.
Kemegahan Pembangunan Fisik
Aspek-aspek
pembangunan fisik yang mendapat perhatian umat Islam sangat banyak. Dalam perdagangan,
jalan-jalan dan pasar-pasar dibangun. Bidang pertanian demikian juga. Sistem
Irigasi baru diperkenalkan kepada masyarakat Spanyol yang tidak mengenal
sebelumnya. Orang-orang Arab juga
memperkenalkan
pengaturan hidrolik untuk tujuan irigasi. Kalau dam digunakan untuk mengecek
curah air, waduk (kolam) dibuat untuk konservasi [penyimpanan air]. Di samping itu, orang-orang Islam juga
memperkenalkan pertanian padi, perkebunan jer uk,
kebun-kebun dan tanaman-tanaman.
Industri, disamping pertanian dan perdagangan, juga
merupakan tulang punggung ekonomi Spanyol Islam. Di antaranya adalah tekstil,
kayu, kulit, logam, dan industri barang-barang tembikar. Namun demikian, pembangunan-pembangunan fisik yang paling menonjol
adalah gedung-gedung, seperti pembangunan kota, istana, mesjid, pemukiman, dan
taman-taman. Di antara pembangunan yang megah adalah mesjid Cordova, kota al-Zahra,
Istana Ja’fariyah di Saragosa, tembok Toledo, Istana al-Makmun, mesjid Seville,
dan istana al-Hamra di Granada.
a.
Cordova
Cordova adalah ibukota Spanyol sebelum Islam, yang
kemudian diambil alih oleh Bani Umayyah. Oleh penguasa muslim, kota ini dibangun
dan diperindah. Jembatan besar dibangun untuk menghiasi ibukota spanyol Islam
itu. Pohon-pohon dan bunga-bunga diimpor dari Timur. Di seputar ibukota berdiri
istana-istana yang megah yang semakin mempercantik pemandangan, setiap istana
dan taman diberi nama tersendiri dan di puncaknya terpancang istana Damsik.
b.
Granada
Granada adalah tempat pertahanan terakhir ummat
Islam di Spanyol. Disana berkumpul sisa-sisa kekuatan Arab dan pemikir Islam. Posisi Cordova
diambil alih oleh Granada di masa-masa akhir kekuasaan Islam di Spanyol.
Arsitektur-arsitektur bangunannya terkenal di seluruh Eropa. Istana al-Hamra
yang indah dan megah adalah pusat dan puncak ketinggian arsitektur Spanyol
Islam. Istana itu dikelilingi taman-taman yang tidak kalah indahnya.
3.
Faktor-faktor Pendukung Kemajuan
Spanyol Islam, kemajuannya sangat ditentukan oleh
adanya penguasa-penguasa
yang kuat dan berwibawa, yang mampu mempersatukan kekuatan-kekuatan umat Islam, seperti Abd
al-Rahman al-Dakhil, Abd al-Rahman al-Wasith dan Abd al-Rahman al-Nashir.
Keberhasilan politik pemimpin-pemimpin tersebut
ditunjang oleh kebijaksanaan penguasa-penguasa lainnya yang mempelopori
kegiatan-kegiatan ilmiah yang terpenting diantara penguasa dinasti Umayyah di
Spanyol.
Dalam hal ini adalah Muhammad Ibn Abd al-Rahman
[852-886] dan al-Hakam II al-Muntashir [961-976].
Toleransi beragama ditegakkan oleh para penguasa
terhadap penganut agama Kristen dan Yahudi. Sehingga mereka ikut berpartisispasi
mewujudkan peradaban Arab Islam di Spanyol. Untuk orang Kristen, sebagaimana
juga orang-orang
Yahudi, disediakan hakim khusus yang menangani masalah sesuai dengan ajaran
agama mereka masing-masing.
Hal ini menunjukkan bahwa meskipun umat Islam
terpecah dalam beberapa kesatuan politik, terdapat apa yang disebut kesatuan budaya
dunia Islam.
Perpecahan politik pada masa Muluk al-Thawa’if dan
sesudahnya tidak menyebabkan mundurnya peradaban. Masa itu, bahkan merupakan
puncak kemajuan ilmu pengetahuan, kesenian, dan kebudayaan Spanyol Islam.
Setiap dinasti [raja] di Malaga, Toledo, Sevilla, Granada, dan lain-lain
berusaha menyaingi Cordova. Kalau sebelumnya Cordova merupakan satu-satunya
pusat ilmu dan peradaban Islam di Spanyol, Muluk al Thawa’if berhasil
mendirikan pusat-pusat peradaban baru yang diantaranya justru lebih maju.[11]
D.
Penyebab Kemunduran dan Kehancuran
Islam di Spanyol, menjadi pemerintahan yang berdiri
sendiri di masa khalifah Abdurrahman III dan merupakan salah satu negara
terbesar di masa itu.
Di samping
daulat Abbasiyah di Timur, Bizantium dan kerajaan Charlemangne [Frank] di
Barat.
Tetapi pada masa pemerintahan berikutnya Spanyol
mengalami kemunduran karena terjadi disintegrasi yang telah memporak-porandakan
kesatuan dan persatuan Andalusia yang membawa kepada kehancuran Islam di
Spanyol.
Adapun faktor yang menyebabkan kemunduran Islam di
Spanyol antara lain:
a.
Konflik Islam dengan Kristen
Para penguasa muslim tidak melakukan islamisasi
secara sempurna. Mereka sudah merasa puas dengan hanya menagih upeti dari
kerajaan-kerajaan Kristen taklukannya dan membiarkan mereka mempertahankan
hukum dan adat mereka, termasuk posisi hirarki tradisional, asal tidak ada
perlawanan bersenjata.
Namun demikian, kehadiran Arab Islam telah
memperkuat rasa kebangsaan orang-orang Spanyol Kristen. Hal itu menyebabkan
kehidupan negara Islam di Spanyol tidak pernah berhenti dari pertentangan
antara Islam dan Kristen. Pada abad ke-11 M umat Kristen memperoleh kemajuan
pesat, sementara umat Islam sedang mengalami kemunduran.
b.
Tidak Adanya Ideologi Pemersatu
Kalau di tempat-tempat lain para muallaf
diperlakukan sebagai orang Islam yang sederajat, di Spanyol, sebagaimana
politik yang dijalankan Bani Umayyah di Damaskus, orang-orang Arab tidak pernah
menerima orang-orang pribumi. Setidak-tidaknya sampai abad ke-10 M, mereka masih memberi
istilah ‘ibad dan muwalladun kepada para muallaf itu, suatu ungkapan
yang dinilai merendahkan.
Akibatnya, kelompok-kelompok etnis non Arab yang ada
sering menggerogoti dan merusak perdamaian. Hal itu mendatangkan dampak besar
terhadap sejarah sosioekonomi negeri tersebut. Hal ini menunjukkan tidak adanya
ideologi yang dapat memberi makna persatuan, disamping kurangnya figur yang
dapat menjadi personifikasi ideologi itu.
c.
Kesulitan Ekonomi
Di paruh kedua masa Islam di Spanyol, para penguasa
membangun kota dan mengembangkan ilmu pengetahuan dengan sangat “serius”,
sehingga lalai membina perekonomian. Akibatnya timbul kesulitan ekonomi yang
amat memberatkan dan mempengaruhi kondisi politik dan militer.
d.
Tidak Jelasnya Sistem Peralihan
Kekuasaan
Hal ini menyebabkan perebutan kekuasaan di antara
ahli waris. Bahkan, karena inilah kekuasaan Bani Umayyah runtuh dan Muluk
al-Thawaif muncul. Granada yang merupakan pusat kekuasaan Islam terakhir di
Spanyol jatuh ke tangan Ferdinand dan Isabella, diantaranya juga disebabkan
permasalahan ini.
e.
Keterpencilan
Spanyol Islam bagaikan terpencil dari dunia Islam
yang lain. Pemerintahan Spanyol jauh dari daerah Islam lain mengakibatkan
jauhnya dukungan dari daerah lain kecuali dari Afrika Utara yang dibatasi oleh
laut, sementara daerah sekitarnya adalah daerah yang dikuasai kaum Nasrani yang
salalu iri dan merasa direndahkan oleh etnis Arab. Maka Islam Spanyol, selalu
berjuang sendirian, tanpa mendapat bantuan kecuali dari Afrika Utara. Dengan
demikian, tidak ada kekuatan alternative yang mampu membendung kebangkitan
Kristen di sana.[12]
E.
Pengaruh Peradaban Spanyol Islam di
Eropa
Kemajuan Eropa yang terus berkembang hingga saat ini
banyak berhutang budi kepada khazanah ilmu pengetahuan Islam yang berkembang di
periode klasik. Memang banyak saluran bagaimana peradaban Islam mempengaruhi
Eropa, seperti Sicilia dan Perang Salib, tetapi saluran yang terpenting adalah
Spanyol Islam.
Spanyol merupakan tempat yang paling utama bagi
Eropa menyerap peradaban Islam, baik dalam bentuk hubungan politik, sosial,
maupun perekonomian dan peradaban antarnegara. Orang-orang Eropa menyaksikan kenyataan
bahwa Spanyol berada dibawah kekuasaan Islam jauh meninggalkan negara-negara
tetangganya Eropa, terutama dalam bidang pemikiran dan sains di samping
bangunan fisik.
Pengaruh ilmu pengetahuan Islam atas Eropa yang
sudah berlangsung sejak abad ke-12 M itu menimbulkan gerakan bangkitan kembali
[renaissance] pusaka Yunani di Eropa pada abad ke-14 M. Berkembangnya
pemikiran Yunani di Eropa kali ini adalah melalui terjemahan-terjemahan Arab
yang dipelajari dan kemudian diterjemahkan kembali kedalam bahasa Latin.
Walaupun Islam akhirnya terusir dari negeri Spanyol
dengan cara yang sangat kejam, tetapi islam
telah membina gerakan-gerakan penting di Eropa. Gerakan-gerakan itu adalah: kebangkitan kembali
kebudayaan Yunani klasik [renaissance] pada abad ke-14 M yang bermula di
Italia, gerakan reformasi pada abad ke-16 M, rasionalisme pada abad ke-17 M, dan pencerahan [aufklaerung]
pada abad ke-18 M.[13]
F.
Penutup
Dari
sejumlah uraian di atas, dapatlah ditarik kesimpulan bahwa masuknya Islam di
Spanyol berbeda dengan masuknya Islam di daerah lain. Kedatangan Islam di Spanyol ternyata
memberikan kontribusi yang tak ternilai, baik kepada dunia Islam, terlebih kepada dunia Barat, dalam hal ilmu
pengetahuan dan peradaban.
Kekuasaan
Islam di Spanyol yang telah mencapai puncak kejayaannya kemudian mulai melemah
kemudian mundur dan hancur secara perlahan akibat berbagai faktor. Diantaranya
faktor utama penyebab kehancuran tersebut adalah akibat terjadinya disintegrasi
yang menyebabkan munculnya kerajaan-kerajaan kecil yang berusaha memerdekakan
diri. Kekuasaan Islam kemudian digantikan oleh kekuasaan Kristen dan berusaha menghapus
habis seluruh pengaruh Islam dan menghilangkan Islam dari bumi Spanyol.
G.
Referensi
-
Tim
Riset dan Studi Islam Mesir, Ensiklopedi sejarah Islam, Jakarta: Al-Kautsar,
2013
- Yatim,
Badri, Sejarah Peradaban Islam Dirosah Islamiyah II, Jakarta: PT RajaGrafindo
Persada, 2000
[1] Tharif bin Malik panglima yang dikirim Musa
bin Nusair sebagai mata-mata perintis penaklukan muslim atas Andalusia.
[2] Thariq bin Ziyad adalah putra
suku Ash-Shadaf, suku Barbar, penduduk asli daerah Al-Atlas, Afrika Utara. Ia
lahir sekitar tahun 50 H. Ia ahli menunggang kuda, menggunakan senjata, dan
ilmu bela diri. Beliau adalah seorang jendral dari dinasti Umayyah yang
memimpin penaklukan muslim atas wilayah Andalus pada tahun 711 M.
[3] Musa bin Nushair lahir tahun 19 H. Ia seorang
panglima yang disegani, ahli siasat dan lelaki yang bertekad bulat. Beliaulah
yang memimpin armada laut kaum muslimin di zaman Mu’awiyah tahun 27 H untuk
menaklukkan Cyprus, dan setelah berhasil menguasainya, beliau membangun
berbagai benteng pertahanan di dalamnya.
[4] Dr. Badri Yatim, M.A, Sejarah Peradaban
Islam Dirosah Islamiyah II, Jakarta: PT. Rajagrafindo Persada, hlm. 87
[5] Tim Riset dan Studi Islam Mesir, Ensiklopedi
Sejarah Islam, Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, hlm. 217
[9]
Dinasti
Murabithun pada mulanya adalah sebuah gerakan agama yang didirikan oleh Yusuf
ibn Tasyfin di Afrika Utara. Pada tahun 1062 M ia berhasil mendirikan sebuah kerajaan yang
berpusat di Marakesy. Ia masuk ke Spanyol atas undangan penguasa-penguasa Islam
di sana yang tengah memikul beban berat perjuangan mempertahankan
negeri-negerinya dari serangan-serangan orang-orang kristen.
[10] Dinasti Muwahhidun didirikan oleh
Muhammad ibn Tumart [ 1128 M]. Dinasti ini datang ke Spanyol di bawah pimpinan
Abd al-Mun’im, antara tahun 1114 dan 1154 M dan kota-kota muslim penting
seperti Cordova, Almeria dan Granada jatuh di bawah kekuasaannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar