Tapi, terkadang
bersikap keras, bermuka tegas, bertutur ‘menyakitkan’ adalah bukti sayang.
Saya sadar, ada
yang tak bisa menerima kalimat ini. Mungkin termasuk anda. Tetapi saya akan
tetap katakan bahwa terkadang, kasih sayang dibuktikan dengan sikap tegas dan
keras.
Sebenarnya
tidak rumit memahaminya. Karena itupun kita lakukan dengan kesadaran. Bukankah,
saat salah seorang yang kita cintai melakukan kesalahan bahkan dosa, kita akan
bersikap tegas bahkan keras. Mengapa? Karena kita mencintai dan mengasihinya.
Karena kita tidak ingin ia terjatuh dalam kesalahan yang berujung kecelakaan. Dan
sebaliknya, justru bukti anda sudah tak lagi menyayanginya ketika anda biarkan
dia berbuat semaunya. Baik tanpa penghargaan. Salah tanpa teguran.
Karena sayang mesti
berekspresi...
Saat istri
melakukan kesalahan nusyuz, Allah memerintahkan agar diberi teguran,
“Laki-laki (suami) itu pelindung bagi perempuan (istri), karena Allah telah Melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah memberikan nafkah dari hartanya. Maka perempuan-perempuan yang saleh, adalah mereka yang taat (kepada Allah) dan menjaga diri ketika (suaminya) tidak ada, karena Allah telah Menjaga (mereka). Perempuan-perempuan yang kamu khawatirkan akan nusyuz, hendaklah kamu beri nasihat kepada mereka, tinggalkanlah mereka di tempat tidur (pisah ranjang), dan (kalau perlu) pukullah mereka. Tetapi jika mereka menaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari alasan untuk menyusahkannya. Sungguh, Allah Maha Tinggi, Maha Besar.” (Qs. An Nisa’: 34)
Saat istri
melakukan pelanggaran, memasukkan seseorang yang tidak disukai suaminya ke
dalam rumahnya, maka inilah ketegasan yang diajarkan Nabi dalam khutbah
terkenalnya,
“...Maka takutlah kepada Allah dalam urusan wanita, karena kalian mengambil mereka dengan amanah Allah dan kalian menghalalkan kemaluan mereka dengan kalimat Allah. Kalian punya hak terhadap mereka untuk tidak memasukkan seorang pun yang tidak kamu sukai ke dalam rumah kalian, jika mereka melakukan itu, makan pukullah mereka dengan pukulan yang tidak melukai. Dan mereka mempunyai hak atas kalian untuk nafkah dan pakaian dengan cara yang baik..." (HR. Bukhari dan Muslim)
Tak hanya dalam
masalah keluarga. Dalam hubungan dengan sesama saudara seiman pun demikian.
Lihatlah keterusterangan Rasulullah kepada Abu Dzar berikut ini,
Dari Abu Dzar, bahwasanya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Wahai Abu Dzar, sesungguhnya aku melihatmu lemah. Dan aku mencintai untukmu sebagaimana aku mencintai untuk diriku sendiri. Jangan kamu memimpin dua orang dan jangan mengurus harta anak yatim.” (HR. Muslim)
Keterusterangan
itu mungkin terasa sangat vulgar. Bagi yang tidak bisa menerimanya mungkin
terasa menyakitkan. Tetapi inilah bukti cinta itu; Dan aku mencintai untukmu
sebagaimana aku mencintai untuk diriku sendiri.Rasul tak mau sahabatnya yang
dikasihi itu terjatuh pada wilayah kelemahannya. Maka, Nabi segera mencegahnya
ketika Abu Dzar memasuki wilayah yang bahaya bagi dirinya.
Sekali lagi,
itulah bukti kasih sayang. Tidak usah khawatir. Dalam petunjuk Nabi, tegas dan
keras itu ada aturan dan kadar yang harus diperhatikan. Tidak boleh asal
melakukannya tanpa mengetahui ilmunya.
Dan...
Ternyata bukti kasih sayang tak mesti harus
kelembutan. Sekali waktu, kesalahan terjadi. Dan saat itulah cinta menuntut
untuk dibuktikan. Ya... teguran, ketegasan, bahkan hukuman.
Itulah bukti
cinta pada saatnya.
Persis seperti yang disampaikan oleh penyair Arab terkenal, Abu Tammam: “Dulu akhlaknya pada kalian manis. .Kemudian kalian meninggalkannya saat terasa asin dan pahit”
Dia bersikap
keras agar kalian sadar dan bagi yang kokoh. hendaklah keras sekali waktu pada
yang dicintainya. (Az Zahroh, Abu Bakar Muhammad bin Dawud Al Ashbahani)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar