Jumat, 01 Januari 2016

Antara aku dan 1 Januari 2016


Pernahkah kamu menanyakan alasan orang merayakan tahun baru? Apa jawaban mereka? 
Jawaban simpel adalah karena yaaa karna setahun sekali. Atau, jawaban kedua yang disimpan dalam hati adalah karena ikut-ikutan kebanyakan orang.
 
Aktivitas seperti menyalakan kembang api, meniup terompet, acara musik, kumpul-kumpul dengan kerabat atau teman, sampai model-model perayaan yang lebih layak disebut ajang kemaksiatan.

Namun, hal seperti itu tidak terjadi pada saya. saya adalah orang yang tidak merayakan tahun baru. Tidak ada yang special. Iya karna sebagai seorang muslim haram bagi kami merayakan perayan tahun. 

Jum’at, 1 Januari 2016 kemarin saya pergi ke Cipayung. Bukan untuk merayakan tahun baru, tapi untuk mengantarkan beberapa pesanan teman.
Saya berangkat sekitar jam 8 menggunakan transjakarta dari halte Jembatan Baru menuju halte Tamini Square Jakarta Timur. Dilanjutkan naek angkot 02 untuk sampai ke lokasi. Alhamdulillah, perjalanan lancar sekitar jam 9 saya sudah sampai tempat tujuan.

Setelah selesai tujuan utama saya (mengantarkan pesanan) dan mengobrol sebentar dengan beberapa teman. Ba’da Ashar saya putuskan untuk pulang. Ketika melihat hilir mudik angkot 02 yang penuh sesak dengan penumpang. Disinilah saya baru menyadari kalau hari ini tahun baru

Harap-harap cemas sambil berdo’a dengan sabar saya menunggu angkot 02. Alhamdulillah, penantian tersebut tak sia-sia. Angkot carteran ibu-ibu yang baru selesai berenang di Indraloka WaterPark bersedia menumpangi saya.

Awalnya saya berniat turun di Rambo, karena ingin naik Commuterline Jabodetabek. Tapi setelah mendapa kabar dari salah seorang penumpang kalau Kampung Rambutan macet total. Akhirnya saya memutuskan turun di Tamini Square untuk naek TransJakarta. 

Qodarullah, ternyata sepanjang perjalanan dari terowongan pintu masuk TMII sampai lampu merah Tamini Square padat merayap. Imbasnya banyak orang yang memutuskan jalan kaki karena sulitnya mencari angkot.  

Sampai halte Tamini Square penumpang membludak karena Bus yang ditunggu tak kunjung datang (terjebak macet). Setelah menunggu lama meluncurlah Bus gandeng TransJakarta hilir. karena melihat antusias penumpang berbondong-bondong naek aku putuskan untuk menunggu bus selanjutnya.

 Alhamdulillah beberapa menit kemudian melunjurlah bus TransJakarta yang kosong. ternyata bus tersebut hanya berhenti hanya sampai halte kuningan untuk menggisi BBG. Dari pada menunggu Bus jurusan Grogol yang lama dan saya prediksi akan sarat dengan penumpang ahsan naek aja pikirku. Saya naek dan turun di halte Kuningan. 

Alhamdulillah, di halte Kuningan hampir setengan jam menunggu bus jurusan Pluit pun tiba. Saya naek meskipun bus lumayan padat (Yang penting sampai tujuan dengan selamat).



Di tengah perjalanan (halte semanggi), semua penumpang bus yang saya tumpangi harus di evakuasi karena mengalami kerusakan. Saya pun kembali harus berjuang menunggu bus jurusan Grogol/Pluit. Alhamdulillah, setelah penantian lama akhirnya bus datang. 


Di halte Grogol 2 saya turun dan harus transite di halte Grogol 1 untuk sampai dirumah. Tapi mengingat waktu maghrib sudah tiba, ujan yang mulai mengguyur IbuKota, disana pun saya harus berjuang lagi (halte Grogol 1), ditambah kondisi saya yang mulai lelah. Akhirnya saya memutuskan telpon ke rumah dan minta dijemput. Saya pun dijemput dan tiba dirumah dengan selamat. Alhamdulillah…..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar