Jumat, 01 Januari 2016

Agama Yahudi



       I.            MUQADDIMAH
Setiap manusia yang lahir ke muka bumi dalam keadaan fitrah yaitu mengakui adanya Tuhan Yang Maha Esa. Berbagai macam cara yang dilakukan manusia untuk mendekatkan dirinya kepada apa yang dianggapnya Tuhan Yang Maha Esa.
Ada tiga hal yang menentukkan suatu aliran kepercayaan itu disebut agama dalam pengetahuan perbandingan agama yaitu:
1.            Adanya ajaran-ajaran kepercayaan (akidah).
2.            Adanya ajaran-ajaran pemujaan atau penyembahan (ibadah).
3.            Adanya peraturan-peraturan dalam melaksanakan hubungan terhadap Tuhan dan sesama manusia (syariat).
Jika ketiga perkara ini terdapat dalam suatu aliran kepercayaan, maka paham demikian sudah dinamakan agama.[1]
Agama Yahudi merupakan agama monotheisme tertua dan menempati posisi yang sangat penting dalam sejarah agama-agama.  Disamping itu, agama yahudi juga memiliki hubungan yang sangat erat dengan agama Kristen dan Islam. 

    II.            PEMBAHASAN
A.    Sejarah Agama dan Bangsa Yahudi

Asal-usul Agama Yahudi
Sudah disepakati bersama bahwa pembawa pertama ajaran agama Yahudi adalah Nabiyullah Musa as. Yang hidup sekitar tahun 1570-1450 SM, tahun menurut kitab Bible agama Nasrani. Nabi Musa mendapat wahyu dari Tuhan waktu berusia sekitar 40 tahun. Tuhan mengutus Nabi Musa dengan tugas pertama adalah untuk melepaskan dan memerdekakan Bani Israil dari perbudakan bangsa Mesir (Fir’aun).[2]
Agama Yahudi yang sekarang sudah berubah dari ajaran aslinya. Agama ini sekarang dianut oleh seluruh masyarakat yang berketurunan Yahudi (bani Israil), walaupun mereka itu terdiri dari berbagai bangsa yang beraneka ragam jenis kewarganegaraannya. Intinya, asal mereka keturunan Yahudi (bani Israil) pada umumnya mereka memeluk agama Yahudi. Golongan-golongan yang terdapat dalam agama Yahudi ada dua aliran besar, pertama golongan ortho-dox, kedua golongan reformed.[3]
Asal Usul Bangsa Yahudi
Ada tiga istilah yang sering terpakai dalam menamakan umat atau bangsa Yahudi, yaitu: Yahudi, Ibrani, dan Israil.[4]
a.      Yahudi
Diantara putra ya’kub yang 12 itu yang banyak keturunannya ialah yahuda, putra beliau yang keempat. Selain yang banyak keturunannya, yahuda pun terkemuka pula dalam berbagai hal dari saudara-saudara yang lain. Oleh karena turunannya yang banyak itu, maka diantara turunan nya dari sodara yang lain yang sedikit jumlahnya seperti turunan Benyamin, terus melebur diri dalam golongan yahuda. Dan oleh karena banyak jumlahnya dan besar golongannya, maka bangsa israil yang lainpun telah dibangsakan pula kepada yahuda dengan sebutan yahudi.[5]
b.      Ibrani
Istilah “Ibrani”, berasal dari kata abara yang berarti “menyebrang”. Dinamakan Ibrani, karena mereka datang dengan menyebrangi sungai Eufrat di bawah pimpinan Ibrahim a.s.[6]
Untuk mengetahui asal usul mereka, kita harus kembali kepada sejarah Nabi Ibrahim a.s. karena timbulnya bangsa Ibrani adalah akibat perjuangan Nabi Ibrahim a.s sedang bangsa Israil/ yahudi adalah satu cabang dari turunan beliau.[7] Nama ini dinisbatkan kepada nabi Ibrahim As, karena dalam Taurat ia disebut dengan Abram orang Ibrani.
c.       Bani Israil
Bangsa yahudi dikenal pula dengan bangsa Israil ( Didalam Al-Qur’an disebut bani Israil = keturunan Israil. Israil adalah nama lain dari Nabi Ya’kub). Suku yang terbesar dan terkuat adalah yang dipimpin oleh Yahuda, sehingga pengaruh nama besarnya tersebut seluruh bangsa Israil dinamakan bangsa Yahuda atau bangsa yahudi.[8]
Di antara ketiga istilah tersebut, yang paling populer dan paling lama adalah “Yahudi” atau “ Yudaisme” dalam literatur barat. Tetapi orang Yahudi sendiri lebih senang menamakan diri mereka dengan “Israil” walaupun istilah yang paling lama (tua) ialah “Ibrani”.[9]

Sejarah BangsaYahudi
Sebenarnya sejarah bangsa yahudi dimulai sejak zaman Nabi Ya’kub. Tetapi karena eratnya hubungan antara bangsa yahudi dengan bangsa-bangsa lain di Timur Tengah seperti bangsa-bangsa Arab, Hurdi, Armenia dan lain-lain, biasanya orang yang mempelajari agama yahudi mulai dari Nabi Ibrahim, kakek Nabi Ya’kub. Di Kan’an lahir putra-putra Ibrahim yang terkenal yaitu Ismail dan Ishak. Ismail kemudian menjadi nenek Moyang dari bangsa Arab, sedangkan Ishak Bapak dari Yakub yang kemudian menjadi nenek moyang bangsa Yahudi.[10]
Tetapi sebenarnya bagi mereka sendiri, tidak mudah untuk menentukan siapa yang disebut sebagai Yahudi. Istilah “Yahudi” merujuk pada bangsa, sekaligus pada agama. “Yahudi” (Inggris: Jew, Prancis: Uif), diambil dari kata latin “Juadaeus”. Istilah ini biasanya menunjuk pada bangsa Yahudi atau Israil (Jacob). Dalam perjanjian lama, istilah menunjuk pada rakyat kerajaan Judah yang dikontraskan dengan gentiles (non Yahudi). Dalam perjanjian baru, istilah Jew diterapkan untuk orang yang secara etnis atau agama adalah Yahudi. Tapi, unsur etnis lebih ditekankan. CM Pilkiton Judaism, menyebut hukum Yahudi (Jewish law), sebagai mana didefinisikan dalam Talmud dan dikodifikasikan rabi-rabi Yahudi, seorang yang disebut sebagai Yahudi adalah: 1) yang dilahirkan dari seorang ibu Yahudi 2) yang masuk pada agama Yahudi. Definisi ini ditemukan untuk memperoleh status hukum dalam perkawinan atau mendapatkan passport Israil.[11]
Sedangkan Salo W. Baron mendifinisikan bahwa seorang biasa disebut Yahudi jika:
1.            Dilahirkan dari orang tua Yahudi dan belum melakukan konversi agama non Yahudi.
2.            Dilahirkan dari orang tua campuran, tetapi mengumumkan dirinya sebagai Yahudi dan dianggap Yahudi oleh sebagian mayoritas tetangganya.
3.            Seseorang yang dengan kesadaran memeluk agama Yahudi (Yudaism), dan bergabung dengan suatu komunitas Yahudi.[12]
Ada dua pendapat tentang asal-usul istilah yahudi yang kita kenal sekarang ini. Pertama dari bahasa Arab Hada-yahudu-haudan yang berarti Taba-Yatubu-Tauban-taubatan, yang artinya orang yang bertaubat. Kedua, berasal dari nama salah seorang Nabi Yakub yaitu Yahuda. Dia adalah putra keempat dari 12 orang bersaudara. Dari 12 orang inilah yang kemudian menjadi nenek moyang bangsa yahudi, yang terdiri dari 12 suku bangsa.[13]
Jadi jelas, Yahudi adalah sebuah nama yang bisa dipakai untuk agama dan bisa pula untuk bangsa. Jadi istilah “Agama Yahudi” dan “Bangsa Yahudi” sama-sama benar keduanya. Al-Qur’an menyebutnya sebanyak 41 kali dalam 40 ayat, dan semuanya menunjuk kepada bangsa atau kaum Isra’il dengan istilah Bani Israil. Kisah Kaum Bani Israil (Yahudi) dalam Al-Qur’an dipaparkan bahwa dari karakteristiknya adalah suatu kaum yang pembangkang.

B.     Konsep Tuhan dalam Agama Yahudi
Sebagaimana kita ketahui bahwa konsep Tuhan merupakan konsep yang mendasar bagi setiap agama. Dari konsep inilah, kemudian dijabarkan dalam konsep-konsep lain baik konsep tentang manusia, konsep tentang kenabian, konsep tentang alam, dan sebagainya. Karena itu, setiap berbicara tentang ‘agama’, mau tidak mau yang pertama kali perlu dipahami adalah konsep tuhannya.[14]
Agama Yahudi percaya kepada Tuhan Yang Esa, tetapi Tuhan yang hanya khusus untuk Bani Israil, bukan Tuhan untuk bangsa lain. Mereka tidak pernah menyebut nama Tuhannya dengan langsung karena mungkin akan mengurangi kesuciaanNya. Oleh sebab itu orang Israil melambangkannya dengan huruf mati YHWH, tanpa bunyi. Lambang ini bisa dibaca YaHWeH atau Ye-Ho-We atau YeHoVah.[15]
Tuhan menurut Bani Israel disebut Yahweh dia bukanlah tuhan yang menciptakan, tapi Tuhan yang diciptakan sesuai dengan keinginan mereka. Dia tidak ma’shum (terpelihara tetapi melakukan kesalahan, menyesal, menyuruh, mencuri, kejam, fanatic dan menghancurkan umat manusia. Dia digambarkan berjalan didepan jamah Bani Israel pada tiang awan pada siang hari dan pada tiang api pada malam hari untuk menerangi mereka, sehingga mereka dapat berjalan siang dan malam.[16]
Dalam berbagai ayat bible, Yahudi menggambarkan Tuhan sebagai “Bapak” mereka dan mereka sendiri begitu juga dengan raja mereka diposisikan sebagai anak Tuhan. Apalagi, dalam Kejadian 6:2 dan 4 digambarkan, bagaimana anak-anak Tuhan mengawini anak-anak perempuan manusia.
“Maka anak-anak Allah melihat bahwa anak-anak perempuan itu cantik-cantik, lalu mereka mengambil istri dari antara perempuan-perempuan itu, siapa saja yang disukai mereka.” (2)
“Pada waktu itu orang-orang raksasa ada dibumi, dan juga anak-anak perempuan manusia, dan perempuan-perempuan itu melahirkan anak bagi mereka, inilah orang-orang yang gagah perkasa di zaman purbakala, orang-orang yang kenamaan.” (4)[17]
Kepercayaan Bani Israil kepada YeHoVan dapat dikategorisasikan kedalam tiga fase, yaitu:
1.      Fase YeHoVan sebelum Haikal Sulaiman
Pada fase ini Bani Israil sering menukar kepercayaan mereka dengan anak lembu dan juga ular yang mereka anggap suci. Dengan demikian seruan Nabi Musa yang mengajak mereka menyembah YeHoVan tidak ditaati. Malah mereka menyembah berhala dan mempertuhankan dewa-dewa suku bangsa lain.
2.      YeHoVan pada waktu Haikal
Sewaktu Sulaiman membangun Haikal sebagai tempat beribadah Bani Israil dan pusat penyembahan terhadap Tuhan mereka, bangsa Israil malah menganggap YeHoVan tidak banyak bedanya dengan batu-batu berhala atau patung-patung. Tetapi setelah itu bersamaan dengan usaha mereka tetap berdiri dan terpelihara dengan sebaik-baiknya, maka mereka merasa perlu untuk menjalin hubungan kembali dengan YeHoVan. Dan YeHoVan merupakan Tuhan yang Tunggal tetapi hanya untuk Bani Israil saja. Tuhan yang mengatasi semua Tuhan bangsa lain.
3.      YeHoVan sesudah Haikal
Sewaktu Haikal yang dibangun Sulaiman dihancurkan oleh raja Babilonia, Nebuchadnezer (586 SM) dan membuang orang Yahudi ke Babilonia, mereka berfikir adakah YeHoVan bersama mereka ke Babil atau bersama kelompok Israil yang masih tinggal di Palestina? Jawabannya: YeHoVan selalu bersama setiap orang di antara mereka, di mana pun ia berada. Dengan ini mereka tidak lagi merelakan Tuhan dalam arti yang sangat terbatas.
Dengan demikian bangsa Israil tidak begitu mempersoalkan adakah Tuhan itu berbilang atau satu saja. Walaupun disamping YeHoVan masih ada ilah-ilah yang lain, tetapi yang penting kalau mereka itu ada, jangan dipuja.[18]
Dalam tradisi Yahudi nama Tuhan masih merupakan perdebatan yang berkelanjutan. Kaum yahudi hingga kini, masih belum menemukan dan berspekulasi tentang nama Tuhan mereka. Dalam konsep Judaisme ( Agama Yahudi), nama Tuhan tidak dapat diketahui dengan pasti. Kaum Yahudi modern hanya menduga-duga, bahwa nama Tuhan mereka adalah Yahweh. Harold Bloom, dalam buku terkenalnya, jesus and Yahweh, juga menulis, bahwa YHWH adalah nama Tuhan Israel yang tidak pernah bias diketahui bagaimana mengucapkannya: “The four –letter YHWH is God’s proper name in the Hebrew Bible, where it appears some six thousand times. How the name was pronounced we never know.”
Karena tidak memiliki tradisi sanad dan adanya problem Kitab sucinya, maka kaum Yahudi tidak tahu dengan pasti bagaimana cara melafazkan nama Tuhannya yang semuanya tertulis dalam empat huruf mati ‘YHWH’.[19]
Konsep Tuhan dalam Islam jelas berbeda dengan konsep Tuhan dalam Yahudi. Tuhan dalam Islam dikenal dengan nama Allah. Lafaz ‘Allah’ dibaca dengan bacaan tertentu. Kata ‘Allah’ tidak boleh diucapkan sembarangan, tetapi harus sesuai dengan yang dicontohkan Rasulullah saw, sebagaimana bacaan-bacaan ayat-ayat dalam Al-Qur’an. Dengan adanya ilmul qiraat yang berdasarkan pada sanad –yang sampai pada Rasulullah saw- maka kaum Muslimin tidak menghadapi masalah dalam penyebutan nama Tuhan. Umat Islam juga tidak berbeda pendapat tentang nama Tuhan, bahwa nama Tuhan yang sebenarnya ialah Allah. Dengan demikian, “nama Tuhan”, yakni “Allah” juga bersifat otentik dan final, karena menemukan sandaran yang kuat, dari sanad mutawatir yang sampai kepada Rasulullah saw. Umat Islam tidak melakukan ‘spekulasi filosofis’ untuk menyebut nama Allah, karena nama itu sudah dikenalkan langsung oleh Allah SWT melalui Al-Qur’an, dan diajarkan langsung cara melafalkannya oleh Nabi Muhammad saw.[20]

C.    Konsep Wahyu
Ada beberapa kitab yang dianggap sebagai kitab suci agama Yahudi, seperti Torah (Taurat), Talmud, Septuaginta, dan Pentateuch. Tetapi sebetulnya intinya adalah Kitab Taurat, yang juga dinamakan Kitab Perjanjian Lama. Kitab suci agama Yahudi juga merupakan bagian kitab suci agama Kristen. Karena bersama-sama Perjanjian Baru, yang disusun setelah ‘Isa, disebut Bible atau al-kitab, yang aslinya terdiri dari Taurat dan Injil. Tujuh lima persen isi al-Kitab adalah Perjanjian Lama.[21]

a.      Taurat
Taurat itu mengandung lima buah kitab (5 Juz), yaitu:
1.      Kitab Kejadian
Adapun isi kitab kejadian, diantaranya :
-          Meriwayatkan kejadian langit dan bumi
-          Kisah Adam sampai Nabi Yusuf a.s
2.      Kitab Keluaran
Berisi sejarah Israel ketika masih berada di Mesir sampai keluar dari Mesir ke Gurun Sinai.
3.      Kitab Imamat Orang Lewi
Berisi beberapa syariat hukum agama Israil.
4.      Kitab Bilangan
5.      Kitab Ulangan
Kitab bilangan dan ulangan merupakan sumber-sumber hokum bagi orang-orang Israil dan sumber sejarah.[22]

b.      Asfar ( Lampiran Taurat)
Ada 34 Surat (34 Asfar) yang menjadi pegangan orang-orang Yahudi atau Israel. Asfar yang ke 34 itu, walaupun jelas dia bukan bersumber dari wahyu Allah dan hanya merupakan catatan riwayat dalam pandangan orang-orang Israil dan umat Kristen memiliki kedudukan dan kesucian yang sama dengan Taurat yang terdiri atas lima kitab itu.
Kumpulan taurat yang lima kitab (Ijmak Surat) ditambah dengan asfar yang 34 surat (34 kitab) itu berjumlah 39 kitab (Asfar), dan dinamakan perjanjian lama oleh orang-orang Nasrani.[23]

c.       Talmud
Talmud adalah cerita-cerita lisan yang turun temurun dari para pemimpin agama yahudi, yang kemudian dihimpun oleh seorang ahli agama Judas pada tahun 150. Dalam sebuah buku yang disebut MISYNA, artinya Syariat yang diulang-ulang, yaitu pengulangan dari Taurat Musa sebagai penjelasan dan Penafsiran.[24]
Kitab Talmud ada dua macam, yaitu:
1.      Talmud Yeruzalmi, kitab Talmud yang penutupnya dilakukan di Palestina kira-kira pada permulaan abad kelima Masehi.
2.      Talmud Babli, kitab Talmud yang penutupnya dilakukan di Babilonia sekitar abad keenam Masehi.[25]
Intisari kitab Talmud dapat dibagi menjadi lima bagian:
1.      Sejarah tentang:
a.       Qabil dan Habil sampai runtuhnya menara Babilonia.
b.      Kelahiran Ibrahim sampai kehancuran Sodom dan Gomorah.
c.       Masa kelahiran Ishaq sampai Perang Chechem.
d.      Masa Yusuf hingga pengangkatannya menjadi pejabat tinggi Mesir.
e.       Kebesaran Yusuf dan kedatangan Ya’qub ke Mesir.
f.       Kematian Ya’qub dan putera-puteranya: Musa keluar dari Mesir.
2.      Berisi contoh-contoh tafsiran kitab seperti, keluar dari Mesir, Hukum-hukum Tuhan, Musa meninggal dunia, buku Esther dan raja Sulaiman yang bijaksana.
3.      Berisi riwayat para rahib atau rabbi, ajaran-ajaran mereka dan kejadian-kejadian dalam hidup mereka.
4.      Peribadatan, fatwa-fatwa para rabbi dan legenda-legenda.
5.      Berisi hukum perdata dan hukum pidana.[26]

d.      Protokol-Protokol Pendeta Yahudi
Di zaman sekarang terkenal pula sebuah buku yang disusun oleh pendeta-pendeta Yahudi bernama PROTOKOL. Sampai sekarang orang belum dapat mengetahui siapa penulis protokol dan dimana ditulisnya, tetapi ada tanda-tanda menunjukkan bahwa protokol ini timbul dari hasil muktamar bangsa Yahudi pada tahun 1897, yakni penghujung abad ke 19. Muktamar itu berlangsung di Bale, Switzerland. Protokol sebenarnya merupakan sebuah dokumen rahasia bagi bangsa Yahudi, yang berisikan rencana bangsa Yahudi internasional menaklukan dunia.[27]
Para penganut ajaran agama Yahudi baik yang ortodhox maupun yang reformis mempunyai kepercayaan bahwa kitab suci mereka yang disebut Taurat dan Talmud yang kemudian diberi nama oleh orang-orang Nasrani The Old Testament atau yang umum disebut kitab Perjanjian Lama merupakan wahyu Ilahi.[28] Dan ada juga yang berpendapat bahwa umat Yahudi tidak mengakui Kitab Perjanjian Baru sebagai Kitab suci.[29]
Dalam Konsep Wahyu, sudah kita maklumi bahwa Taurat ialah kitab suci yang diturunkan kepada Nabi Musa a.s untuk menjadi tuntunan bagi kaumnya Bani Israil. Namun terdapat perbedaan padangan dan pendapat disana-sini mengenai kitab Taurat. Orang Yahudi mengatakan Taurat itu ialah kumpulan dari 5 naskah kitab(asfar), yang ditulis sendiri oleh Nabi Musa a.s, adapun yang dinamai Taurat menurut pandangan Islam, yaitu kitab suci yang diturunkan Allah kepada Nabi Musa, yang gunanya untuk menjadi pedoman dan tuntunan bagi umatnya Bani Israil.[30]
Kitab Talmud (yang berisi cerita-cerita lisan yang turun temurun dari para pemimpin agama yahudi) menurut orang-orang Yahudi dianggap paling suci diantara kitab-kitab suci yang lain. Maka jelaslah apa yang disebutkan Tuhan di dalam Al-Qur’an bahwa Bani Isarail telah menyia-nyiakan kitab suci mereka, tidak memeliharakan menurut semestinya, keutuhan isinya tidak mereka jaga, bahkan diantara isinya telah meraka rubah. Diantaranya QS. Al-Baqarah: 79, Ali-Imran: 71, An-Nisa: 46, dan Al-Maidah: 13.

D.    Konsep Nabi 

-          Nabi-nabi Awal
Dalam tradisi Yahudi dan Kristen, nabi adalah pemimpin umat yang dipanggil Allah untuk memperingati mereka agar tidak menyimpang dari perintah-perintah Allah. Umumnya tradisi kenabian dianggap baru dimulai setelah masa Samuel (hakim terakhir yang memimpin Israil sebelum munculnya sistem monarkhi). Namun para teolog sepakat bahwa tradisi kenabian dimulai sejak masa Yosua yang muncul sebagai pengganti Musa dan yang memimpin bangsa Israel memasuki Kanaan. Itu berarti, selain menjadi hakim, Samuel dapat dianggap juga memainkan peranan kenabian.
Para pemimpin ini digolongkan sebagai nabi-nabi awal. Dalam kelompok ini termasuk pula nabi-nabi terkenal lainnya seperti Natan, Elia, dan Elisa. Selain itu ada juga "nabi-nabi palsu", khususnya mereka yang bekerja di lingkungan istana dan hanya memberikan nasihat-nasihat dusta yang hanya menyenangkan raja (lih. 1 Raja-raja ps. 18).

-          Nabi-nabi kemudian
Yang digolongkan ke dalam nabi-nabi yang kemudian adalah mereka yang biasa disebut nabi-nabi besar dan nabi-nabi kecil.
Sebutan "nabi-nabi besar" dan "nabi-nabi kecil" tidak ada hubungannya dengan peranan, kedudukan, ataupun status nabi-nabi tersebut. Istilah ini diberikan kepada mereka hanya dalam kaitannya dengan kitab-kitab mereka. Kitab "empat nabi-nabi besar", yaitu Yesaya, Yeremia, Yehezkiel, dan Daniel.  Umumnya panjang-panjang, dan pasal-pasalnya relatif lebih banyak daripada kitab nabi-nabi kecil. Sementara itu, kedua belas nabi kecil disebut demikian karena kitab-kitab mereka singkat-singkat. Bahkan kitab Nabi Obaja, misalnya, hanya satu pasal saja.
Yang termasuk dalam "dua belas nabi-nabi kecil" adalah Hosea, Yoel, Amos, Obaja, Yunus, Mikha, Nahum, Habakuk, Zefanya, Hagai, Zakharia, dan Maleakhi.

Keenambelas nabi-nabi yang namanya diabadikan menjadi nama kitab tersebut dapat dibagi menjadi lima kurun waktu;
  1. Masa mula-mula (c. 845-800 SM): Obaja, Yoel, dan Yunus
  2. Sebelum masa penawanan Israel (c. 760-722 SM): Amos dan Hosea (kepada kerajaan utara), Yesaya dan Mikha (kepada kerajaan selatan)
  3. Sebelum masa penawanan Yehuda (c. 627-586 SM): Zefanya, Nahum, Habakuk, Yeremia
  4. Masa pengasingan (c. 593-536): Yehezkiel, Daniel
  5. Masa pemulihan (c. 536 SM - ): Hagai, Zakharia, Maleakhi.[31]
Nabi dalam agama Yahudi sangat banyak sekali sehingga mereka membagi nabi menjadi dua periode; periode nabi-nabi awal dan nabi-nabi kemudian. Akan tetapi dari sekian banyak nabi-nabi dalam agama Yahudi, mereka tidak mengakui Muhammad sebagai nabi penerus risalah kenabian Nabi Musa karena Nabi Muhammad bukan berasal dari keturunan bangsa Israil/Yahudi.
faktanya, hampir seluruh nubuat Perjanjian Lama menunjuk pada Nabi Muhammad. Diantaranya dalam kitab perjanjian lama Kidung agung 5: 10 dan 16.
“Putih bersih dan merah cerah kekasih-Ku, menyolok mata di antara 10.000 orang.” (10).
“Kata-katanya manis semata-mata, dia (Muhammad) sungguh sangat digemari. Demikianlah kekasih-Ku, demikianlah teman-Ku, hai puteri-puteri Yerusalem.” (16).
Penjelasan ayat  10:  Menurut saudara sepupu sekaligus menantu Muhammad, yaitu Ali bin Abu Thalib, ciri-ciri Muhammad adalah: "...Tubuh beliau tidaklah terlalu gemuk, mukanya bundar, warnanya PUTIH BERCAMPUR MERAH..." (H.R. Tirmidzi dalam Sunan dan Syama'ilnya). Sedangkan menurut Anas bin Malik, ciri-ciri Muhammad adalah: "...wajahnya terang bercahaya, tubuhnya tidak terlalu PUTIH dan tidak pula terlalu MERAH..." (H.R. Bukhari, Muslim, dan Tirmidzi). Ketika memasuki kota Mekah pada tahun 630 M dalam keadaan aman dan damai yang dikenal dengan peristiwa "Fathu Makkah", Muhammad disertai 10.000 pengikut yang saleh (Stanley lane poole, Speeches and Table Talks of the Prophet Mohammed 1882). Dalam literatur lain dikatakan: "Nabi Muhammad berangkat bersama dengan 10.000 orang pada saat yang menentukan ini" (Washington Irving, Life of Muhammad, Hal. 17). Sementara itu, dalam literatur lain juga, Abu Sufyan berteriak untuk mengumpulkan orang-orang: "Wahai orang-orang Quraisy, Muhammad telah berada di sini dengan kekuatan yang tidak dapat kalian lawan. Muhammad bersama 10.000 pasukan baja...” (MARTIN LINGS, Muhammad, hal. 474). 

Penjelasan ayat 16: Dalam naskah Ibrani asli, kata "Muhummedim" diterjemahkan menjadi "sungguh sangat digemari" yang pada dasarnya adalah kata "Muhummed" dengan tambahan "im". Dalam bahasa Ibrani "im" digunakan untuk menyatakan jamak. Sebagaimana kata "Ellohim" (Allah-Allah) dalam Perjanjian Lama yang pada dasarnya adalah kata "Elloha" (Allah). Jika tidak didistorsi berulangkali, maka seharusnya Kidung Agung 5:16 berbunyi sebagai berikut: “Kata-katanya manis semata-mata, dialah Muhammad! Demikianlah kekasih-Ku, demikianlah teman-Ku, hai putera-puteri Yerusalem.”
Perlu dicatat, bahwa kata "Muhummedim" atau "Muhummed" adalah NAMA orang, yang sebenarnya tidak dapat diterjemahkan ke dalam bahasa manapun secara apapun, karena ia merupakan nama orang "pemberian" dari Tuhan. [32]

E.     Konsep-konsep lainnya
Upacara-upacara Agama Yahudi
Mengenai upacara-upacara keagamaan bangsa yahudi yang penting, diantaranya ialah tentang korban, penyucian, bersunat, nazar, penumpasan, doa dan sembahyang, serta puasa.[33]
1.      Korban
Penyembelihan itu dilakukan di tempat yang tertentu, yaitu Mazbah (artinya tempat penyembelih). Mazbah itu merupakan satu bangunan yang terletak atas dua belas tiang. Binatang korban itu ada yang dibakar hangus, dinamai korban bakaran; ada pula yang dimakan dagingnya. Ada kalanya darah penyembelihan korban itu ditampung dipercikan kepada mazbah itu.[34]
Korban bagi bangsa yahudi terbagi menjadi dua macam, yaitu: korban pengampunan dan korban kebaktian tanda syukur.
a.       Korban pengampunan dibagi dua macam lagi, korban dosa dan korban kesalahan.
Korban dosa maksudnya memperbaiki kembali nisbah dengan Allah dan untuk menembus dosa. Korban dosa ini dipersembahkan pada hari pengampunan besar untuk menembus dosa para imam dan semua manusia disesuaikan dengan kedudukan orang yang mengorbankannya.
Korban kesalahan hampir sama dengan korban dosa. Perbedaannya bahwa korban kesalahan diselenggarakan setelah seseorang melakukan kesalahan seperti mencuri, tidak memenuhi nazar, dan sebagainnya.
b.      Korban kebaktian tanda syukur ialah mempersembahkan korban pujian-pujian sebagai tanda syukur atas karunia-karunia yang dilimpahkan Tuhan. Termasuk dalam kategori ini juga korban nazar dan korban suka rela.[35]
2.      Penyucian
Orang Israil dianggap najis jika menjamah mayat, memakan binatang-binatang haram, berpenyakit kusta, dan di waktu perempuan nifas.[36]
Orang yang sudah menjamah mayat dianggap najis selama 7 hari. Orang itu dapat disucikan kembali dengan air suci, yang telah dibuat dari air lembu muda yang merah. Seorang wanita yang baru selesai melahirkan, dianggap tidak suci selama 40 hari, jika anaknya laki-laki, dan 80 hari jika anaknya perempuan. Setelah habis sucinya, ia wajib mempersembahkan korban penyucian. Orang yang tersangka berpenyakit kusta harus segera menghadap imam, jika ternyata benar ia berpenyakit kusta, ia harus diasingkan ke luar kota.[37]
3.      Bersunat
Mengkhitankan (menyunat) anak laki-laki adalah suatu kewajiban dalam agama Israil; dilakukan hari yang kedelapan dari kelahiran anak itu. Seperti tersebut dalam kitab Imamat 12:3. Pada hari yang kedelapan itu juga anak itu diberi nama. Orang asing yang hendak masuk agama Israil atau anggota bangsa Israil dapat diterima jika dia telah dikhitankan.[38]

4.      Nazar
Orang yang bernazar wajib memenuhi nazarnya.nazar itu tidak boleh ditembus dengan uang yang tidak halal. Juga tidak boleh ditembus dengan sesuatu yang kurang dari yang dinazarkan.[39]
5.      Penumpasan
Penumpasan berarti pengasingan manusia untuk kematian atau penumpasan benda-benda. Orang yang ditumpas harus dibunuh. Benda-benda yang ditumpas harus jadi milik Tuhan untuk imam dan kebaktian. Yang kena tumpas dari bangsa Israil ialah orang-orang yang menyembah berhala, orang-orang yang menentang Allah, penenung, dan pembunuh. Dengan hukuman yang keras ini Allah menjaga umatnya jangan campur dengan kekafiran. Akan tetapi, kenyatannya bangsa Israil malahan banyak menyeleweng dari hukum ini. Oleh sebab itu, Allah sendiri yang menghukum mereka dengan peperangan antar saudara, pembuangan, dan penderitaan penjahat.[40]
6.      Doa dan sembahyang
Sembahyang dan doa adalah di antara ibadat agama Israil yang amat penting, dan biasa mereka lakukan dengan berjamaah.[41]
Orang-orang Israil berdoa dan shalat 3x sehari; yakni jam 9 pagi, jam 12 siang, dan jam 5 sore. Waktu berdoa mereka berdiri, mengangkat kedua tangan, dan mengarahkan tangannya ke langit. Ada kalanya mereka berdoa sambil berlutut atau sujud sampai mukanya tersungkur ke bumi. Di mana saja terdapat perkampungan yahudi, mereka mendirikan synagoge-synagoge untuk peribadatan.[42]
Ketika berada di negeri Mesir, sebelum turun kitab Taurat, orang-orang Israil bersembahyang di rumah mereka masing-masing atau di suatu tempat khusus untuk bersama. Setelah berada di Gurun Sinai, setelah turunnya kitab Taurat, mereka bersembahyang di dalam khaimah besar yang khusus untuk bersembahyang, luasnya kira-kira 100 x 50 hasta (32 x 16 meter). Khaimah itu mereka bawa kemana saja mereka pindah. Di zaman Nabi Sulaiman memerintah, setelah Baitul Maqdis selesai didirikan oleh beliau, tempat sembahyang sudah ditukar dengan Baitul Muqaddas (rumah suci), tidak lagi menggunakan khaimah untuk tempat sembahyang. Di perkampungan-perkampungan yang jauh dari kota bangsa Yahudi mendirikan Sinagog-sinagoog, yaitu mushalla-mushalla untuk tempat mengajarkan agama. Dalam sembahyang mereka menghadapkan wajah ke Baitul Maqaddas di Palestina itu, sebagai kiblat mereka. Yang ditunjuk menjadi Imam selamanya turunan Lewi.[43]
7.      Puasa
Menurut penetapan agama, maka orang-orang Israil hanya diwajibkan berpuasa pada hari Pengampunan Besar.[44] Hari Pengampunan Besar yaitu hari kesepuluh tiap bulan ketujuh.[45]
Semua puasa lainnya dilakukan dengan suka rela, seperti pada waktu terjadi rencana nasional. Golongan parisi suka berpuasa pada hari senin dan kamis.[46] Di samping itu puasa yang dilakukan dengan sukarela (puasa sunnat); biasanya pada waktu-waktu ada musibah atau bencana umum yang menimpa bangsa Israil.[47]
8.      Upacara paskah
Paskah (Fasch) yaitu hari peringatan ke luar dari negeri Mesir, yang dilakukan pada bulan Abi (Nopember). Pada masa itu tujuh hari tidak boleh  memakan barang yang mengandung ragi harus memakan roti yang pahit. Pada petang hari yang pertama diadakan penyembelihan korban domba muda. Daging korban itu harus habis pada petang itu juga tidak boleh bermalam. Pada hari yang ketujuh dari hari Paskah semua orang harus beristirahat, tidak boleh bekerja. (kitab Ulangan 16: 1-8)[48]
9.      Memberikan hasil pertanian
Diwajibkan pula mempersembahkan sepersepuluh hasil pertanian apa saja yang ditanam. Begitu juga hasil peternakan: anak lembu, kambing atau domba yang sulung. Jika sukar membawanya boleh dijual, harganya dibelikan kepada barang makanan kemudian dipersembahkan. Hasil sepersepuluh itu boleh juga dikumpulkan lebih dahulu tiap tiga tahun lalu dipersembahkan kepada Lewi (para Imam), orang yang dalam perjalanan (Ibnusabil), yatim piatu, fakir miskin dan perempuan janda. (kitab Ulangan 14: 22-29)[49]
10.  Hari-hari suci
Dalam agama Israil waktu ketujuh adalah waktu yang suci. Diantaranya:
a.       Hari sabtu (hari sabat) dianggap suci, karena ia hari yang ketujuh. Pada hari itu semua pekerjaan harus dihentikan, tidak boleh bekerja. Pada hari itu pula diadakan penghimpunan suci.
b.      Bulan ketujuh di mana diadakan perayaan hari pengampunan besar. Hari pertama dari bulan ketujuh dimuliakan.
c.       Tahun ketujuh dinamakan tahun Sabat. Selama tahun itu piutang tidak boleh ditagih dan tanah pun tidak boleh dikerjakan. (Kitab Ulangan 15: 1-2)[50]
Terdapat persamaan dan perbedaan antara Yahudi dengan Islam dalam Ibadah, diantaranya:
1.       Korban
Dalam agama Yahudi korban dilaksanakan dalam rangka menembus dosa dan dilaksanakan di Mazbah (satu bangunan yang terletak atas dua belas tiang), sedangkan dalam Islam Korban (Udhiyyah) dilaksanakan pada hari raya Idul Adha dan hari Tasyriq dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah SWT.
2.      Penyucian
Dalam agama Yahudi jika menjamah mayat, memakan binatang-binatang haram, berpenyakit kusta, dan di waktu perempuan nifas itu di anggap najis dan harus disucikan kembali dengan air suci (yang terbuat dari air lembu muda yang merah). Sedangkan dalam Islam bersuci dilakukan jika terkena hadas dan najis.
Hadas terbagi dua;
-          hadas kecil yaitu jika seseorang dalam keadaan bernajis disebabkan buang hajat selama belum beristinja’, maka cara bersucinya cukup dengan wudhu atau tayamum.
-          Hadas besar yaitu jika seseorang dalam keadaan bernajis disebabkan bercampurnya suami istri, nifas, serta haid, maka cara bersucinya dengan mandi.
Cara Bensuci dari najis terbagi tiga;
-          Membasuh sebanyak 7x dan salah satunya dicampur dengan tanah yaitu najis dari babi dan anjing serta segala sesuatu yang keluar dari keduanya.
-          Istinja’ dan istijmar (dengan benda-benda kering yang punya daya serap, seperti batu atau benda-benda lainnya) yaitu membersihkan segala sesuatu yang keluar dari kubul dan dubur.
-          Dan mengosok atau menyiram yaitu najis berupa kotoran, darah, atau darah yang mengenai pakaian atau tempat.
3.      Bersunat
Bengkhitankan (bersunat) dalam agama Yahudi diwajibkan atas anak laki-laki yang dilakukan hari yang kedelapan dari kelahiran anak itu.
Sedangkan dalam agama Islam bengkhitan (bersunat) diwajibkan atas laki-laki dan wanita.
4.      Nazar
Dalam agama Yahudi orang yang bernazar wajib memenuhi nazarnya. Nazar itu tidak boleh ditembus dengan uang yang tidak halal. Juga tidak boleh ditembus dengan sesuatu yang kurang dari yang dinazarkan.
Sedangkan dalam Islam memenuhi nazar adalah hal yang wajib, jika nadzar tersebut adalah sesuatu hal yang dibenarkan oleh syari’at. Dan barangsiapa bernadzar lalu ia tidak dapat menunaikannya, maka ia harus melaksanakan kafarat sebagaimana kafarat sumpah.
5.      Sembahyang dan doa
Dalam agama Yahudi berdoa dan sembahyang dilakukan 3x sehari; yakni jam 9 pagi, jam 12 siang, dan jam 5 sore.
Sedangkan dalam Islam shalat diwajibkan 5x sehari; yakni shubuh, dzuhur, ashar, maghrib, dan isya’.
6.      Puasa
Orang-orang Yahudi diwajibkan pada hari Pengampunan Besar (hari ke- 10 tiap bulan ketujuh).
Sedangkan umat Islam diwajibkan puasa selama sebulan penuh pada bulan Ramadhan.
7.      Memberikan hasil pertanian
Dalam agama Yahudi diwajibkan  mempersembahkan sepersepuluh hasil pertanian apa saja yang ditanam.
Sedangkan dalam Islam zakat diwajibkan atas semua hasil pertanian dan buah-buahan yang ditanam jika sudah mencapai nishob. Tanaman yang mendapat siraman air dari langit atau mata air, maka zakatnya adalah sepersepuluh. Dan tanaman yang disiram dengan tenaga manusia, maka zakatnya adalah seperduapuluh.

F.      Metode Da’wah kepada Agama Yahudi
Da’wah Islam merupakan kewajiban atas setiap Muslim baik laki-laki maupun perempuan. Dalam berda’wah, seorang Muslim dituntut untuk bersikap hikmah, yaitu menghadapi setiap problematika da’wah dengan cara yang proporsional tanpa meremehkan atau melebih-lebihkan, apalagi dalam menghadapi keanekaragaman kondisi da’wah dan objek da’wah dengan metode-metode da’wah yang paling tepat. Sebagaimana firman Allah subhanu wa ta’ala;
    
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. An-Nahl: 125) 

Dan metode da’wah yang bisa dilakukan kepada kaum Yahudi adalah dengan berakhlak mulia, dan menjaga hubungan baik dengan mereka. Hal tersebut dilakukan agar da’wah yang kita lakukan bisa lebih diterima dan berharap mereka mendapat hidayah dan masuk Islam.
Disisi lain, terkadang da’wah juga harus dilakukan dengan cara tegas, wibawa, dan pemberian hukuman saat mereka tidak bisa lagi diharapakan masuk Islam. Sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi Muhammad shallahu ‘alaihi wasallam ketika menghukum kaum yahudi bani Nadzir, Qainuqa’ dan Quraizhah. Wallahu ‘alam.

 III.            Referensi
Abdul Manaf, Mujahid. Sejarah Agama-Agama, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 1996
Bakri, Hasbullah. Ilmu Perbandingan Agama, Jakarta: Widijaya Jakarta, 1986
Hakim, Agus. Perbandingan Agama, Jakarata: Diponegoro, 2006
Husaini, Adian. Tinjauan Historis Konflik Kristen Yahudi Islam, Jakarta: Gema Insani Press, 2004
Id.m.wikipedia.org/wiki/Nabi
Lembaga Pengkajian dan Penelitian WAMY, Gerakan Keagamaan dan Pemikiran, Jakarta: Al-Itishom, 2002
Pakdenono, Muhammad Dalam Taurat Israil, 2006
Thalhas, T.H. Pengantar Study Ilmu Perbandingan Agama, Jakarta: Galura Pase, 2006



[1] Agus Hakim, Perbandingan Agama, Jakarata: Diponegoro, 2006, Hal.
[2] T.H. Thalhas, Pengantar Study Ilmu Perbandingan Agama, Jakarta: Galura Pase, 2006, Hal. 89
[3] Ibid, Hal. 89-90
[4] Mudjahid Abdul Manaf, Sejarah Agama-Agama, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 1996, Hal. 43
[5] Agus Hakim, Perbandingan Agama, Hal.40
[6] Mudjahid Abdul Manaf, Sejarah Agama-Agama, Hal. 43
[7] Agus Hakim, Perbandingan Agama, Hal. 38
[8] Hasbullah Bakri, Ilmu perbandingan agama, Hal 105
[9] Mudjahid Abdul Manaf, Sejarah Agama-Agama, Hal. 44
[10] Hasbullah Bakri, Ilmu Perbandingan Agama, Hal. 106
[11] Adian Husaini, Tinjauan Historis Konflik Kristen Yahudi Islam, Jakarta: Gema Insani Press, 2004, Hal. 19
[12] Ibid
[13] Hasbullah Bakri, Ilmu Perbandingan Agama, Jakarta: Widijaya Jakarta, 1986, Hal. 105
[14] Adian Husaeni, Islam Agama Yahudi, Jakarta: INSISTS, hal. 11
[15] Mudjahid Abdul Manaf, Sejarah Agama-Agama, Hal. 56
[16] Lembaga Pengkajian dan Penelitian WAMY, Gerakan Keagamaan dan Pemikiran, Jakarta: Al-Itishom, 2002, Hal.449
[17] Ibid
[18] Mudjahid Abdul Manaf,  Sejarah Agama-Agama, Hal. 58-59
[19] Ibid, Hal. 22-23
[20] Ibid, Hal. 17-18
[21] Mudjahid Abdul Manaf, Sejarah Agama-Agama, Hal. 52
[22] Agus Hakim, Perbandingan Agama, Hal. 68
[23] Ibid, Hal-68-69
[24] Lembaga Penelitian dan Pengkajian WAMY, Gerakan Keagamaan dan Pemikiran, Hal. 448
[25] T.H. Thalhas, Pengantar Study Ilmu Perbandingan Agama, Hal. 94
[26] Mudjahid Abdul Manaf, Sejarah Agama-Agama, Hal. 54
[27] Ibid, Hal.72
[28] T.H. Thalhas, Pengantar Study Ilmu Perbandingan Agama, Hal. 92
[29] Mudjahid Abdul Manaf, Sejarah Agama-Agama, Hal. 53
[30] Perbandingan Agama, hal 75
[31] Id.m.wikipedia,org/wiki/nabi
[32] Pakdenono, Muhammad Dalam Perjanjian Lama, 2006
[33] Mudjahid Abdul Manaf, Ilmu perbandingan Agama, Hal. 118
[34] Agus Hakim, Perbandingan Agama, Hal. 55
[35] Mudjahid Abdul Manaf, Ilmu Perbandingan Agama, Hal. 118-119
[36] Ibid, Hal. 119
[37] Agus Hakim, Perbandingan Agama, Hal. 56-57
[38] Ibid, Hal. 57
[39] Mudjahid Abdul Manaf, Ilmu Perbandingan Agama, Hal. 120
[40] Ibid,.
[41] Agus Hakim, Perbandingan Agama, Hal. 54
[42] Mudjahid Abdul Manaf, Ilmu Perbandingan Agama, Hal. 120
[43] Agus Hakim, Perbandingan Agama, Hal. 54-55
[44] Mudjahid Abdul Manaf, Ilmu Perbandingan Agama, Hal. 121
[45] Agus Hakim, Perbandingan Agama, Hal. 55
[46] Mudjahid Abdul Manaf, Ilmu Perbandingan Agama, Hal. 121
[47] Agus Hakim, Perbandingan Agama, Hal. 55
[48] Ibid, hal. 58
[49] Ibid, hal. 57
[50] Ibid, hal. 58

Tidak ada komentar:

Posting Komentar