I.
MUQADDIMAH
Setiap manusia yang lahir ke muka bumi dalam keadaan fitrah
yaitu mengakui adanya Tuhan Yang Maha Esa. Berbagai macam cara yang dilakukan
manusia untuk mendekatkan dirinya kepada apa yang dianggapnya Tuhan Yang Maha
Esa.
Ada tiga hal yang menentukkan suatu aliran kepercayaan itu
disebut agama dalam pengetahuan perbandingan agama yaitu:
1.
Adanya ajaran-ajaran
kepercayaan (akidah).
2.
Adanya ajaran-ajaran
pemujaan atau penyembahan (ibadah).
3.
Adanya
peraturan-peraturan dalam melaksanakan hubungan terhadap Tuhan dan sesama
manusia (syariat).
Jika ketiga perkara ini terdapat dalam suatu aliran kepercayaan,
maka paham demikian sudah dinamakan agama.[1]
Agama Yahudi merupakan agama monotheisme tertua dan menempati
posisi yang sangat penting dalam sejarah agama-agama. Disamping itu, agama yahudi juga memiliki
hubungan yang sangat erat dengan agama Kristen dan Islam.
II.
PEMBAHASAN
A.
Sejarah Agama dan Bangsa Yahudi
Asal-usul
Agama Yahudi
Sudah disepakati bersama bahwa pembawa
pertama ajaran agama Yahudi adalah Nabiyullah Musa as. Yang hidup sekitar tahun
1570-1450 SM, tahun menurut kitab Bible agama Nasrani. Nabi Musa mendapat wahyu
dari Tuhan waktu berusia sekitar 40 tahun. Tuhan mengutus Nabi Musa dengan
tugas pertama adalah untuk melepaskan dan memerdekakan Bani Israil dari
perbudakan bangsa Mesir (Fir’aun).[2]
Agama Yahudi yang sekarang sudah berubah dari ajaran aslinya.
Agama ini sekarang dianut oleh seluruh masyarakat yang berketurunan Yahudi
(bani Israil), walaupun mereka itu terdiri dari berbagai bangsa yang beraneka
ragam jenis kewarganegaraannya. Intinya, asal mereka keturunan Yahudi (bani
Israil) pada umumnya mereka memeluk agama Yahudi. Golongan-golongan yang
terdapat dalam agama Yahudi ada dua aliran besar, pertama golongan ortho-dox,
kedua golongan reformed.[3]
Asal Usul
Bangsa Yahudi
Ada tiga istilah yang sering terpakai
dalam menamakan umat atau bangsa Yahudi, yaitu: Yahudi, Ibrani, dan Israil.[4]
a.
Yahudi
Diantara putra ya’kub yang 12 itu yang banyak keturunannya ialah
yahuda, putra beliau yang keempat. Selain yang banyak keturunannya, yahuda pun
terkemuka pula dalam berbagai hal dari saudara-saudara yang lain. Oleh karena
turunannya yang banyak itu, maka diantara turunan nya dari sodara yang lain
yang sedikit jumlahnya seperti turunan Benyamin, terus melebur diri dalam
golongan yahuda. Dan oleh karena banyak jumlahnya dan besar golongannya, maka
bangsa israil yang lainpun telah dibangsakan pula kepada yahuda dengan sebutan
yahudi.[5]
b.
Ibrani
Istilah “Ibrani”, berasal dari kata abara yang berarti “menyebrang”.
Dinamakan Ibrani, karena mereka datang dengan menyebrangi sungai Eufrat di
bawah pimpinan Ibrahim a.s.[6]
Untuk mengetahui asal usul mereka, kita harus kembali kepada
sejarah Nabi Ibrahim a.s. karena timbulnya bangsa Ibrani adalah akibat perjuangan
Nabi Ibrahim a.s sedang bangsa Israil/ yahudi adalah satu cabang dari turunan
beliau.[7] Nama ini dinisbatkan kepada nabi
Ibrahim As, karena dalam Taurat ia
disebut dengan Abram orang Ibrani.
c.
Bani Israil
Bangsa yahudi dikenal pula dengan bangsa Israil ( Didalam
Al-Qur’an disebut bani Israil = keturunan Israil. Israil adalah nama lain dari
Nabi Ya’kub). Suku yang terbesar dan terkuat adalah yang dipimpin oleh Yahuda,
sehingga pengaruh nama besarnya tersebut seluruh bangsa Israil dinamakan bangsa
Yahuda atau bangsa yahudi.[8]
Di antara ketiga istilah tersebut, yang paling populer dan
paling lama adalah “Yahudi” atau “ Yudaisme” dalam literatur barat. Tetapi
orang Yahudi sendiri lebih senang menamakan diri mereka dengan “Israil”
walaupun istilah yang paling lama (tua) ialah “Ibrani”.[9]
Sejarah
BangsaYahudi
Sebenarnya sejarah bangsa yahudi dimulai sejak zaman Nabi
Ya’kub. Tetapi karena eratnya hubungan antara bangsa yahudi dengan
bangsa-bangsa lain di Timur Tengah seperti bangsa-bangsa Arab, Hurdi, Armenia dan lain-lain, biasanya orang yang mempelajari
agama yahudi mulai dari Nabi Ibrahim, kakek Nabi Ya’kub. Di Kan’an lahir
putra-putra Ibrahim yang terkenal yaitu Ismail dan Ishak. Ismail kemudian
menjadi nenek Moyang dari bangsa Arab, sedangkan Ishak Bapak dari Yakub yang
kemudian menjadi nenek moyang bangsa Yahudi.[10]
Tetapi sebenarnya bagi mereka sendiri, tidak mudah untuk
menentukan siapa yang disebut sebagai Yahudi. Istilah “Yahudi” merujuk pada
bangsa, sekaligus pada agama. “Yahudi” (Inggris: Jew, Prancis: Uif),
diambil dari kata latin “Juadaeus”. Istilah ini biasanya menunjuk pada bangsa
Yahudi atau Israil (Jacob). Dalam perjanjian lama, istilah menunjuk pada rakyat
kerajaan Judah yang dikontraskan dengan gentiles (non Yahudi). Dalam perjanjian
baru, istilah Jew diterapkan untuk orang yang secara etnis atau agama adalah
Yahudi. Tapi, unsur etnis lebih ditekankan. CM Pilkiton Judaism, menyebut hukum Yahudi (Jewish law), sebagai mana
didefinisikan dalam Talmud dan dikodifikasikan rabi-rabi Yahudi, seorang yang
disebut sebagai Yahudi adalah: 1) yang dilahirkan dari seorang ibu Yahudi 2)
yang masuk pada agama Yahudi. Definisi ini ditemukan untuk memperoleh status
hukum dalam perkawinan atau mendapatkan passport Israil.[11]
Sedangkan Salo W. Baron mendifinisikan bahwa seorang biasa
disebut Yahudi jika:
1.
Dilahirkan dari orang
tua Yahudi dan belum melakukan konversi agama non Yahudi.
2.
Dilahirkan dari orang
tua campuran, tetapi mengumumkan dirinya sebagai Yahudi dan dianggap Yahudi
oleh sebagian mayoritas tetangganya.
3.
Seseorang yang dengan
kesadaran memeluk agama Yahudi (Yudaism), dan bergabung dengan suatu komunitas
Yahudi.[12]
Ada dua pendapat tentang asal-usul istilah yahudi yang kita
kenal sekarang ini. Pertama dari
bahasa Arab Hada-yahudu-haudan yang
berarti Taba-Yatubu-Tauban-taubatan, yang
artinya orang yang bertaubat. Kedua, berasal
dari nama salah seorang Nabi Yakub yaitu Yahuda.
Dia adalah putra keempat dari 12 orang bersaudara. Dari 12 orang inilah yang
kemudian menjadi nenek moyang bangsa yahudi, yang terdiri dari 12 suku bangsa.[13]
Jadi jelas, Yahudi adalah sebuah nama yang bisa dipakai untuk agama dan bisa
pula untuk bangsa. Jadi istilah “Agama Yahudi” dan “Bangsa Yahudi” sama-sama
benar keduanya. Al-Qur’an
menyebutnya sebanyak 41 kali dalam 40 ayat, dan semuanya menunjuk kepada bangsa
atau kaum Isra’il dengan istilah Bani Israil. Kisah Kaum Bani Israil (Yahudi)
dalam Al-Qur’an dipaparkan bahwa dari karakteristiknya adalah suatu kaum yang
pembangkang.
B.
Konsep Tuhan dalam Agama Yahudi
Sebagaimana kita ketahui bahwa konsep Tuhan merupakan konsep
yang mendasar bagi setiap agama. Dari konsep inilah, kemudian dijabarkan dalam
konsep-konsep lain baik konsep tentang manusia, konsep tentang kenabian, konsep
tentang alam, dan sebagainya. Karena itu, setiap berbicara tentang ‘agama’, mau
tidak mau yang pertama kali perlu dipahami adalah konsep tuhannya.[14]
Agama Yahudi percaya kepada Tuhan Yang Esa, tetapi Tuhan yang
hanya khusus untuk Bani Israil, bukan Tuhan untuk bangsa lain. Mereka tidak
pernah menyebut nama Tuhannya dengan langsung karena mungkin akan mengurangi
kesuciaanNya. Oleh sebab itu orang Israil melambangkannya dengan huruf mati
YHWH, tanpa bunyi. Lambang ini bisa dibaca YaHWeH atau Ye-Ho-We atau YeHoVah.[15]
Tuhan menurut Bani Israel disebut Yahweh dia bukanlah tuhan yang
menciptakan, tapi Tuhan yang diciptakan sesuai dengan keinginan mereka. Dia
tidak ma’shum (terpelihara tetapi melakukan kesalahan, menyesal, menyuruh,
mencuri, kejam, fanatic dan menghancurkan umat manusia. Dia digambarkan
berjalan didepan jamah Bani Israel pada tiang awan pada siang hari dan pada
tiang api pada malam hari untuk menerangi mereka, sehingga mereka dapat
berjalan siang dan malam.[16]
Dalam berbagai ayat bible, Yahudi menggambarkan Tuhan sebagai
“Bapak” mereka dan mereka sendiri begitu juga dengan raja mereka diposisikan
sebagai anak Tuhan. Apalagi, dalam Kejadian 6:2 dan 4 digambarkan, bagaimana
anak-anak Tuhan mengawini anak-anak perempuan manusia.
“Maka
anak-anak Allah melihat bahwa anak-anak perempuan itu cantik-cantik, lalu
mereka mengambil istri dari antara perempuan-perempuan itu, siapa saja yang
disukai mereka.” (2)
“Pada
waktu itu orang-orang raksasa ada dibumi, dan juga anak-anak perempuan manusia,
dan perempuan-perempuan itu melahirkan anak bagi mereka, inilah orang-orang
yang gagah perkasa di zaman purbakala, orang-orang yang kenamaan.” (4)[17]
Kepercayaan Bani Israil kepada YeHoVan dapat dikategorisasikan
kedalam tiga fase, yaitu:
1.
Fase YeHoVan sebelum
Haikal Sulaiman
Pada fase ini Bani Israil sering menukar kepercayaan mereka
dengan anak lembu dan juga ular yang mereka anggap suci. Dengan demikian seruan
Nabi Musa yang mengajak mereka menyembah YeHoVan tidak ditaati. Malah mereka
menyembah berhala dan mempertuhankan dewa-dewa suku bangsa lain.
2.
YeHoVan pada waktu
Haikal
Sewaktu Sulaiman membangun Haikal sebagai tempat beribadah Bani
Israil dan pusat penyembahan terhadap Tuhan mereka, bangsa Israil malah
menganggap YeHoVan tidak banyak bedanya dengan batu-batu berhala atau
patung-patung. Tetapi setelah itu bersamaan dengan usaha mereka tetap berdiri
dan terpelihara dengan sebaik-baiknya, maka mereka merasa perlu untuk menjalin
hubungan kembali dengan YeHoVan. Dan YeHoVan merupakan Tuhan yang Tunggal
tetapi hanya untuk Bani Israil saja. Tuhan yang mengatasi semua Tuhan bangsa
lain.
3.
YeHoVan sesudah
Haikal
Sewaktu Haikal yang dibangun Sulaiman dihancurkan oleh raja
Babilonia, Nebuchadnezer (586 SM) dan membuang orang Yahudi ke Babilonia,
mereka berfikir adakah YeHoVan bersama mereka ke Babil atau bersama kelompok
Israil yang masih tinggal di Palestina? Jawabannya: YeHoVan selalu bersama
setiap orang di antara mereka, di mana pun ia berada. Dengan ini mereka tidak
lagi merelakan Tuhan dalam arti yang sangat terbatas.
Dengan demikian bangsa Israil tidak begitu mempersoalkan adakah Tuhan
itu berbilang atau satu saja. Walaupun disamping YeHoVan masih ada ilah-ilah
yang lain, tetapi yang penting kalau mereka itu ada, jangan dipuja.[18]
Dalam tradisi Yahudi nama Tuhan masih
merupakan perdebatan yang berkelanjutan. Kaum
yahudi hingga kini, masih belum menemukan dan berspekulasi tentang nama Tuhan
mereka. Dalam konsep Judaisme ( Agama
Yahudi), nama Tuhan tidak dapat diketahui dengan pasti. Kaum Yahudi modern
hanya menduga-duga, bahwa nama Tuhan mereka adalah Yahweh. Harold Bloom, dalam buku terkenalnya, jesus and Yahweh, juga menulis, bahwa YHWH adalah nama Tuhan Israel
yang tidak pernah bias diketahui bagaimana mengucapkannya: “The four –letter YHWH is
God’s proper name in the Hebrew Bible, where it appears some six thousand
times. How the name was pronounced we never know.”
Karena tidak memiliki tradisi sanad dan adanya problem Kitab
sucinya, maka kaum Yahudi tidak tahu dengan pasti bagaimana cara melafazkan
nama Tuhannya yang semuanya tertulis dalam empat huruf mati ‘YHWH’.[19]
Konsep Tuhan dalam Islam jelas berbeda
dengan konsep Tuhan dalam Yahudi. Tuhan dalam Islam dikenal dengan nama Allah.
Lafaz ‘Allah’ dibaca dengan bacaan tertentu. Kata ‘Allah’ tidak boleh diucapkan
sembarangan, tetapi harus sesuai dengan yang dicontohkan Rasulullah saw,
sebagaimana bacaan-bacaan ayat-ayat dalam Al-Qur’an. Dengan adanya ilmul
qiraat yang berdasarkan pada sanad –yang sampai pada Rasulullah saw- maka
kaum Muslimin tidak menghadapi masalah dalam penyebutan nama Tuhan. Umat Islam
juga tidak berbeda pendapat tentang nama Tuhan, bahwa nama Tuhan yang
sebenarnya ialah Allah. Dengan demikian, “nama Tuhan”, yakni “Allah” juga
bersifat otentik dan final, karena menemukan sandaran yang kuat, dari sanad
mutawatir yang sampai kepada Rasulullah saw. Umat Islam tidak melakukan
‘spekulasi filosofis’ untuk menyebut nama Allah, karena nama itu sudah dikenalkan
langsung oleh Allah SWT melalui Al-Qur’an, dan diajarkan langsung cara
melafalkannya oleh Nabi Muhammad saw.[20]
C.
Konsep Wahyu
Ada beberapa kitab yang dianggap
sebagai kitab suci agama Yahudi, seperti Torah (Taurat), Talmud, Septuaginta,
dan Pentateuch. Tetapi sebetulnya intinya adalah Kitab Taurat, yang juga
dinamakan Kitab Perjanjian Lama. Kitab suci agama Yahudi juga merupakan bagian
kitab suci agama Kristen. Karena bersama-sama Perjanjian Baru, yang disusun
setelah ‘Isa, disebut Bible atau al-kitab, yang aslinya terdiri dari Taurat dan
Injil. Tujuh lima persen isi al-Kitab adalah Perjanjian Lama.[21]
a.
Taurat
Taurat itu mengandung lima buah kitab (5 Juz), yaitu:
1.
Kitab Kejadian
Adapun
isi kitab kejadian, diantaranya :
-
Meriwayatkan kejadian
langit dan bumi
-
Kisah Adam sampai Nabi
Yusuf a.s
2.
Kitab Keluaran
Berisi
sejarah Israel ketika masih berada di Mesir sampai keluar dari Mesir ke Gurun
Sinai.
3. Kitab Imamat Orang Lewi
Berisi beberapa syariat hukum agama Israil.
4. Kitab Bilangan
5. Kitab Ulangan
Kitab bilangan dan ulangan merupakan sumber-sumber hokum bagi
orang-orang Israil dan sumber sejarah.[22]
b.
Asfar ( Lampiran Taurat)
Ada 34 Surat (34 Asfar) yang menjadi pegangan orang-orang Yahudi
atau Israel. Asfar yang ke 34 itu, walaupun jelas dia bukan bersumber dari
wahyu Allah dan hanya merupakan catatan riwayat dalam pandangan orang-orang
Israil dan umat Kristen memiliki kedudukan dan kesucian yang sama dengan Taurat
yang terdiri atas lima kitab itu.
Kumpulan taurat yang lima kitab (Ijmak Surat) ditambah dengan
asfar yang 34 surat (34 kitab) itu berjumlah 39 kitab (Asfar), dan dinamakan
perjanjian lama oleh orang-orang Nasrani.[23]
c.
Talmud
Talmud adalah cerita-cerita lisan yang turun temurun dari para
pemimpin agama yahudi, yang kemudian dihimpun oleh seorang ahli agama Judas pada
tahun 150. Dalam sebuah buku yang disebut MISYNA, artinya Syariat yang
diulang-ulang, yaitu pengulangan dari Taurat Musa sebagai penjelasan dan
Penafsiran.[24]
Kitab Talmud ada dua macam, yaitu:
1.
Talmud Yeruzalmi, kitab
Talmud yang penutupnya dilakukan di Palestina kira-kira pada permulaan abad
kelima Masehi.
2.
Talmud Babli, kitab Talmud
yang penutupnya dilakukan di Babilonia sekitar abad keenam Masehi.[25]
Intisari kitab Talmud dapat dibagi menjadi lima bagian:
1.
Sejarah tentang:
a.
Qabil dan Habil sampai
runtuhnya menara Babilonia.
b.
Kelahiran Ibrahim sampai
kehancuran Sodom dan Gomorah.
c.
Masa kelahiran Ishaq
sampai Perang Chechem.
d.
Masa Yusuf hingga
pengangkatannya menjadi pejabat tinggi Mesir.
e.
Kebesaran Yusuf dan
kedatangan Ya’qub ke Mesir.
f.
Kematian Ya’qub dan
putera-puteranya: Musa keluar dari Mesir.
2.
Berisi contoh-contoh
tafsiran kitab seperti, keluar dari Mesir, Hukum-hukum Tuhan, Musa meninggal
dunia, buku Esther dan raja Sulaiman yang bijaksana.
3.
Berisi riwayat para rahib
atau rabbi, ajaran-ajaran mereka dan kejadian-kejadian dalam hidup mereka.
4.
Peribadatan, fatwa-fatwa
para rabbi dan legenda-legenda.
5.
Berisi hukum perdata dan
hukum pidana.[26]
d.
Protokol-Protokol Pendeta Yahudi
Di zaman sekarang terkenal pula sebuah buku yang disusun oleh
pendeta-pendeta Yahudi bernama PROTOKOL.
Sampai sekarang orang belum dapat mengetahui siapa penulis protokol dan
dimana ditulisnya, tetapi ada tanda-tanda menunjukkan bahwa protokol ini timbul
dari hasil muktamar bangsa Yahudi pada tahun 1897, yakni penghujung abad ke 19.
Muktamar itu berlangsung di Bale, Switzerland. Protokol sebenarnya merupakan
sebuah dokumen rahasia bagi bangsa Yahudi, yang berisikan rencana bangsa Yahudi
internasional menaklukan dunia.[27]
Para penganut ajaran agama Yahudi baik
yang ortodhox maupun yang reformis mempunyai kepercayaan bahwa kitab suci
mereka yang disebut Taurat dan Talmud yang kemudian diberi nama oleh
orang-orang Nasrani The Old Testament atau yang umum disebut kitab Perjanjian
Lama merupakan wahyu Ilahi.[28] Dan ada juga yang
berpendapat bahwa umat Yahudi tidak mengakui Kitab Perjanjian Baru sebagai
Kitab suci.[29]
Dalam Konsep Wahyu, sudah kita maklumi bahwa Taurat ialah kitab
suci yang diturunkan kepada Nabi Musa a.s untuk menjadi tuntunan bagi kaumnya
Bani Israil. Namun terdapat perbedaan padangan dan pendapat disana-sini
mengenai kitab Taurat. Orang Yahudi mengatakan Taurat itu ialah kumpulan dari 5
naskah kitab(asfar), yang ditulis sendiri oleh Nabi Musa a.s, adapun yang
dinamai Taurat menurut pandangan Islam, yaitu kitab suci yang diturunkan Allah kepada
Nabi Musa, yang gunanya untuk menjadi pedoman dan tuntunan bagi umatnya Bani
Israil.[30]
Kitab Talmud (yang berisi cerita-cerita lisan yang turun temurun dari para pemimpin agama
yahudi) menurut orang-orang Yahudi dianggap paling suci diantara kitab-kitab suci yang lain. Maka jelaslah apa yang disebutkan Tuhan di dalam Al-Qur’an bahwa
Bani Isarail telah menyia-nyiakan kitab suci mereka, tidak memeliharakan
menurut semestinya, keutuhan isinya tidak mereka jaga, bahkan diantara isinya
telah meraka rubah. Diantaranya QS. Al-Baqarah: 79, Ali-Imran: 71, An-Nisa: 46,
dan Al-Maidah: 13.
D. Konsep Nabi
-
Nabi-nabi
Awal
Dalam tradisi Yahudi dan Kristen, nabi adalah
pemimpin umat yang dipanggil Allah untuk memperingati mereka agar tidak
menyimpang dari perintah-perintah Allah. Umumnya tradisi kenabian dianggap baru
dimulai setelah masa Samuel (hakim terakhir yang memimpin Israil sebelum
munculnya sistem monarkhi). Namun para teolog sepakat bahwa tradisi kenabian
dimulai sejak masa Yosua yang muncul sebagai pengganti Musa dan yang memimpin bangsa Israel memasuki Kanaan. Itu
berarti, selain menjadi hakim, Samuel dapat dianggap juga memainkan peranan
kenabian.
Para pemimpin ini digolongkan sebagai nabi-nabi
awal. Dalam kelompok ini termasuk pula nabi-nabi terkenal lainnya seperti
Natan, Elia, dan Elisa. Selain itu ada juga "nabi-nabi palsu",
khususnya mereka yang bekerja di lingkungan istana dan hanya memberikan
nasihat-nasihat dusta yang hanya menyenangkan raja (lih. 1 Raja-raja ps. 18).
-
Nabi-nabi
kemudian
Yang digolongkan ke dalam nabi-nabi
yang kemudian adalah mereka yang biasa disebut nabi-nabi besar dan
nabi-nabi kecil.
Sebutan "nabi-nabi
besar" dan "nabi-nabi kecil" tidak ada hubungannya dengan
peranan, kedudukan, ataupun status nabi-nabi tersebut. Istilah ini diberikan
kepada mereka hanya dalam kaitannya dengan kitab-kitab mereka. Kitab
"empat nabi-nabi besar", yaitu Yesaya, Yeremia, Yehezkiel, dan Daniel.
Umumnya panjang-panjang, dan pasal-pasalnya relatif lebih banyak
daripada kitab nabi-nabi kecil. Sementara itu, kedua belas nabi kecil disebut demikian
karena kitab-kitab mereka singkat-singkat. Bahkan kitab Nabi Obaja, misalnya,
hanya satu pasal saja.
Yang termasuk dalam "dua
belas nabi-nabi kecil" adalah Hosea,
Yoel, Amos,
Obaja, Yunus, Mikha, Nahum, Habakuk, Zefanya, Hagai, Zakharia, dan Maleakhi.
Keenambelas nabi-nabi yang
namanya diabadikan menjadi nama kitab tersebut dapat dibagi menjadi lima kurun
waktu;
- Masa mula-mula (c. 845-800 SM): Obaja, Yoel, dan Yunus
- Sebelum masa penawanan Israel (c. 760-722 SM): Amos dan Hosea (kepada kerajaan utara), Yesaya dan Mikha (kepada kerajaan selatan)
- Sebelum masa penawanan Yehuda (c. 627-586 SM): Zefanya, Nahum, Habakuk, Yeremia
- Masa pengasingan (c. 593-536): Yehezkiel, Daniel
- Masa pemulihan (c. 536 SM - ): Hagai, Zakharia, Maleakhi.[31]
Nabi dalam agama Yahudi sangat banyak sekali sehingga mereka
membagi nabi menjadi dua periode; periode nabi-nabi awal dan nabi-nabi
kemudian. Akan tetapi dari sekian banyak nabi-nabi dalam agama Yahudi, mereka
tidak mengakui Muhammad sebagai nabi penerus risalah kenabian Nabi Musa karena
Nabi Muhammad bukan berasal dari keturunan bangsa Israil/Yahudi.
faktanya, hampir seluruh nubuat Perjanjian Lama menunjuk pada
Nabi Muhammad. Diantaranya dalam kitab perjanjian lama Kidung agung 5: 10 dan
16.
“Putih bersih dan
merah cerah kekasih-Ku, menyolok mata di antara 10.000 orang.” (10).
“Kata-katanya manis
semata-mata, dia (Muhammad) sungguh sangat digemari. Demikianlah kekasih-Ku,
demikianlah teman-Ku, hai puteri-puteri Yerusalem.” (16).
Penjelasan
ayat 10: Menurut saudara sepupu
sekaligus menantu Muhammad, yaitu Ali bin Abu Thalib, ciri-ciri Muhammad
adalah: "...Tubuh beliau tidaklah terlalu gemuk, mukanya bundar,
warnanya PUTIH BERCAMPUR MERAH..." (H.R. Tirmidzi dalam Sunan dan
Syama'ilnya). Sedangkan menurut Anas bin Malik, ciri-ciri Muhammad adalah: "...wajahnya
terang bercahaya, tubuhnya tidak terlalu PUTIH dan tidak pula terlalu
MERAH..." (H.R. Bukhari, Muslim, dan Tirmidzi). Ketika memasuki kota
Mekah pada tahun 630 M dalam keadaan aman dan damai yang dikenal dengan
peristiwa "Fathu Makkah", Muhammad disertai 10.000 pengikut
yang saleh (Stanley lane poole, Speeches and Table Talks of the Prophet
Mohammed 1882). Dalam literatur lain dikatakan: "Nabi Muhammad berangkat
bersama dengan 10.000 orang pada saat yang menentukan ini"
(Washington Irving, Life of Muhammad, Hal. 17). Sementara itu, dalam literatur
lain juga, Abu Sufyan berteriak untuk mengumpulkan orang-orang: "Wahai
orang-orang Quraisy, Muhammad telah berada di sini dengan kekuatan yang tidak
dapat kalian lawan. Muhammad bersama 10.000 pasukan baja...” (MARTIN
LINGS, Muhammad, hal. 474).
Penjelasan ayat 16: Dalam naskah Ibrani asli, kata "Muhummedim" diterjemahkan menjadi "sungguh sangat digemari" yang pada dasarnya adalah kata "Muhummed" dengan tambahan "im". Dalam bahasa Ibrani "im" digunakan untuk menyatakan jamak. Sebagaimana kata "Ellohim" (Allah-Allah) dalam Perjanjian Lama yang pada dasarnya adalah kata "Elloha" (Allah). Jika tidak didistorsi berulangkali, maka seharusnya Kidung Agung 5:16 berbunyi sebagai berikut: “Kata-katanya manis semata-mata, dialah Muhammad! Demikianlah kekasih-Ku, demikianlah teman-Ku, hai putera-puteri Yerusalem.”
Penjelasan ayat 16: Dalam naskah Ibrani asli, kata "Muhummedim" diterjemahkan menjadi "sungguh sangat digemari" yang pada dasarnya adalah kata "Muhummed" dengan tambahan "im". Dalam bahasa Ibrani "im" digunakan untuk menyatakan jamak. Sebagaimana kata "Ellohim" (Allah-Allah) dalam Perjanjian Lama yang pada dasarnya adalah kata "Elloha" (Allah). Jika tidak didistorsi berulangkali, maka seharusnya Kidung Agung 5:16 berbunyi sebagai berikut: “Kata-katanya manis semata-mata, dialah Muhammad! Demikianlah kekasih-Ku, demikianlah teman-Ku, hai putera-puteri Yerusalem.”
Perlu
dicatat, bahwa kata "Muhummedim" atau "Muhummed" adalah
NAMA orang, yang sebenarnya tidak dapat diterjemahkan ke dalam bahasa manapun
secara apapun, karena ia merupakan nama orang "pemberian" dari
Tuhan. [32]
E.
Konsep-konsep lainnya
Upacara-upacara Agama Yahudi
Mengenai upacara-upacara keagamaan bangsa yahudi yang penting,
diantaranya ialah tentang korban, penyucian, bersunat, nazar, penumpasan, doa
dan sembahyang, serta puasa.[33]
1.
Korban
Penyembelihan itu dilakukan di tempat yang tertentu, yaitu
Mazbah (artinya tempat penyembelih). Mazbah itu merupakan satu bangunan yang
terletak atas dua belas tiang. Binatang korban itu ada yang dibakar hangus,
dinamai korban bakaran; ada pula yang dimakan dagingnya. Ada kalanya darah
penyembelihan korban itu ditampung dipercikan kepada mazbah itu.[34]
Korban bagi bangsa yahudi terbagi menjadi dua macam, yaitu:
korban pengampunan dan korban kebaktian tanda syukur.
a.
Korban pengampunan dibagi
dua macam lagi, korban dosa dan korban kesalahan.
Korban
dosa maksudnya memperbaiki kembali nisbah dengan Allah dan untuk menembus dosa.
Korban dosa ini dipersembahkan pada hari pengampunan besar untuk menembus dosa
para imam dan semua manusia disesuaikan dengan kedudukan orang yang
mengorbankannya.
Korban
kesalahan hampir sama dengan korban dosa. Perbedaannya bahwa korban kesalahan
diselenggarakan setelah seseorang melakukan kesalahan seperti mencuri, tidak
memenuhi nazar, dan sebagainnya.
b.
Korban kebaktian tanda
syukur ialah mempersembahkan korban pujian-pujian sebagai tanda syukur atas
karunia-karunia yang dilimpahkan Tuhan. Termasuk dalam kategori ini juga korban
nazar dan korban suka rela.[35]
2.
Penyucian
Orang Israil dianggap najis jika menjamah mayat, memakan
binatang-binatang haram, berpenyakit kusta, dan di waktu perempuan nifas.[36]
Orang yang sudah menjamah mayat dianggap najis selama 7 hari.
Orang itu dapat disucikan kembali dengan air suci, yang telah dibuat dari air
lembu muda yang merah. Seorang wanita yang baru selesai melahirkan, dianggap
tidak suci selama 40 hari, jika anaknya laki-laki, dan 80 hari jika anaknya
perempuan. Setelah habis sucinya, ia wajib mempersembahkan korban penyucian.
Orang yang tersangka berpenyakit kusta harus segera menghadap imam, jika
ternyata benar ia berpenyakit kusta, ia harus diasingkan ke luar kota.[37]
3.
Bersunat
Mengkhitankan (menyunat) anak laki-laki adalah suatu kewajiban
dalam agama Israil; dilakukan hari yang kedelapan dari kelahiran anak itu.
Seperti tersebut dalam kitab Imamat 12:3. Pada hari yang kedelapan itu juga
anak itu diberi nama. Orang asing yang hendak masuk agama Israil atau anggota
bangsa Israil dapat diterima jika dia telah dikhitankan.[38]
4.
Nazar
Orang yang bernazar wajib memenuhi nazarnya.nazar itu tidak
boleh ditembus dengan uang yang tidak halal. Juga tidak boleh ditembus dengan
sesuatu yang kurang dari yang dinazarkan.[39]
5.
Penumpasan
Penumpasan berarti pengasingan manusia untuk kematian atau
penumpasan benda-benda. Orang yang ditumpas harus dibunuh. Benda-benda yang
ditumpas harus jadi milik Tuhan untuk imam dan kebaktian. Yang kena tumpas dari
bangsa Israil ialah orang-orang yang menyembah berhala, orang-orang yang
menentang Allah, penenung, dan pembunuh. Dengan hukuman yang keras ini Allah
menjaga umatnya jangan campur dengan kekafiran. Akan tetapi, kenyatannya bangsa
Israil malahan banyak menyeleweng dari hukum ini. Oleh sebab itu, Allah sendiri
yang menghukum mereka dengan peperangan antar saudara, pembuangan, dan penderitaan
penjahat.[40]
6.
Doa dan sembahyang
Sembahyang dan doa adalah di antara ibadat agama Israil yang
amat penting, dan biasa mereka lakukan dengan berjamaah.[41]
Orang-orang Israil berdoa dan shalat 3x sehari; yakni jam 9
pagi, jam 12 siang, dan jam 5 sore. Waktu berdoa mereka berdiri, mengangkat
kedua tangan, dan mengarahkan tangannya ke langit. Ada kalanya mereka berdoa
sambil berlutut atau sujud sampai mukanya tersungkur ke bumi. Di mana saja
terdapat perkampungan yahudi, mereka mendirikan synagoge-synagoge untuk
peribadatan.[42]
Ketika berada di negeri Mesir, sebelum turun kitab Taurat,
orang-orang Israil bersembahyang di rumah mereka masing-masing atau di suatu
tempat khusus untuk bersama. Setelah berada di Gurun Sinai, setelah turunnya
kitab Taurat, mereka bersembahyang di dalam khaimah besar yang khusus untuk
bersembahyang, luasnya kira-kira 100 x 50 hasta (32 x 16 meter). Khaimah itu
mereka bawa kemana saja mereka pindah. Di zaman Nabi Sulaiman memerintah,
setelah Baitul Maqdis selesai didirikan oleh beliau, tempat sembahyang sudah
ditukar dengan Baitul Muqaddas (rumah suci), tidak lagi menggunakan khaimah
untuk tempat sembahyang. Di perkampungan-perkampungan yang jauh dari kota
bangsa Yahudi mendirikan Sinagog-sinagoog, yaitu mushalla-mushalla untuk tempat
mengajarkan agama. Dalam sembahyang mereka menghadapkan wajah ke Baitul
Maqaddas di Palestina itu, sebagai kiblat mereka. Yang ditunjuk menjadi Imam
selamanya turunan Lewi.[43]
7.
Puasa
Menurut penetapan agama, maka orang-orang Israil hanya
diwajibkan berpuasa pada hari Pengampunan Besar.[44]
Hari Pengampunan Besar yaitu hari kesepuluh tiap bulan ketujuh.[45]
Semua puasa lainnya dilakukan dengan suka rela, seperti pada
waktu terjadi rencana nasional. Golongan parisi suka berpuasa pada hari senin
dan kamis.[46]
Di samping itu puasa yang dilakukan dengan sukarela (puasa sunnat); biasanya
pada waktu-waktu ada musibah atau bencana umum yang menimpa bangsa Israil.[47]
8.
Upacara paskah
Paskah (Fasch) yaitu hari peringatan ke luar dari negeri Mesir,
yang dilakukan pada bulan Abi (Nopember). Pada masa itu tujuh hari tidak
boleh memakan barang yang mengandung
ragi harus memakan roti yang pahit. Pada petang hari yang pertama diadakan
penyembelihan korban domba muda. Daging korban itu harus habis pada petang itu
juga tidak boleh bermalam. Pada hari yang ketujuh dari hari Paskah semua orang
harus beristirahat, tidak boleh bekerja. (kitab Ulangan 16: 1-8)[48]
9.
Memberikan hasil pertanian
Diwajibkan pula mempersembahkan sepersepuluh hasil pertanian apa
saja yang ditanam. Begitu juga hasil peternakan: anak lembu, kambing atau domba
yang sulung. Jika sukar membawanya boleh dijual, harganya dibelikan kepada
barang makanan kemudian dipersembahkan. Hasil sepersepuluh itu boleh juga
dikumpulkan lebih dahulu tiap tiga tahun lalu dipersembahkan kepada Lewi (para
Imam), orang yang dalam perjalanan (Ibnusabil), yatim piatu, fakir miskin dan
perempuan janda. (kitab Ulangan 14: 22-29)[49]
10.
Hari-hari suci
Dalam agama Israil waktu ketujuh adalah waktu yang suci.
Diantaranya:
a.
Hari sabtu (hari sabat)
dianggap suci, karena ia hari yang ketujuh. Pada hari itu semua pekerjaan harus
dihentikan, tidak boleh bekerja. Pada hari itu pula diadakan penghimpunan suci.
b.
Bulan ketujuh di mana
diadakan perayaan hari pengampunan besar. Hari pertama dari bulan ketujuh
dimuliakan.
c.
Tahun ketujuh dinamakan
tahun Sabat. Selama tahun itu piutang tidak boleh ditagih dan tanah pun tidak
boleh dikerjakan. (Kitab Ulangan 15: 1-2)[50]
Terdapat
persamaan dan perbedaan antara Yahudi dengan Islam dalam Ibadah, diantaranya:
1. Korban
Dalam agama Yahudi korban dilaksanakan
dalam rangka menembus dosa dan dilaksanakan di Mazbah (satu bangunan yang
terletak atas dua belas tiang), sedangkan dalam Islam Korban (Udhiyyah)
dilaksanakan pada hari raya Idul Adha dan hari Tasyriq dalam rangka mendekatkan
diri kepada Allah SWT.
2.
Penyucian
Dalam agama Yahudi jika menjamah
mayat, memakan binatang-binatang haram, berpenyakit kusta, dan di waktu
perempuan nifas itu di anggap najis dan harus disucikan kembali dengan air suci
(yang terbuat dari air lembu muda yang merah). Sedangkan dalam Islam bersuci
dilakukan jika terkena hadas dan najis.
Hadas terbagi dua;
-
hadas
kecil yaitu jika seseorang dalam keadaan bernajis disebabkan buang hajat selama
belum beristinja’, maka cara bersucinya cukup dengan wudhu atau tayamum.
-
Hadas
besar yaitu jika seseorang dalam keadaan bernajis disebabkan bercampurnya suami
istri, nifas, serta haid, maka cara bersucinya dengan mandi.
Cara Bensuci dari najis terbagi tiga;
-
Membasuh
sebanyak 7x dan salah satunya dicampur dengan tanah yaitu najis dari babi dan
anjing serta segala sesuatu yang keluar dari keduanya.
-
Istinja’
dan istijmar (dengan benda-benda kering yang punya daya serap, seperti batu
atau benda-benda lainnya) yaitu membersihkan segala sesuatu yang keluar dari
kubul dan dubur.
-
Dan
mengosok atau menyiram yaitu najis berupa kotoran, darah, atau darah yang
mengenai pakaian atau tempat.
3.
Bersunat
Bengkhitankan (bersunat) dalam agama Yahudi diwajibkan atas anak
laki-laki yang dilakukan hari yang kedelapan dari kelahiran anak itu.
Sedangkan dalam agama Islam bengkhitan (bersunat) diwajibkan
atas laki-laki dan wanita.
4.
Nazar
Dalam agama Yahudi orang yang bernazar wajib memenuhi nazarnya.
Nazar itu tidak boleh ditembus dengan uang yang tidak halal. Juga tidak boleh
ditembus dengan sesuatu yang kurang dari yang dinazarkan.
Sedangkan dalam Islam memenuhi nazar adalah hal yang wajib, jika
nadzar tersebut adalah sesuatu hal yang dibenarkan oleh syari’at. Dan
barangsiapa bernadzar lalu ia tidak dapat menunaikannya, maka ia harus
melaksanakan kafarat sebagaimana kafarat sumpah.
5. Sembahyang dan doa
Dalam agama Yahudi berdoa dan sembahyang dilakukan 3x sehari;
yakni jam 9 pagi, jam 12 siang, dan jam 5 sore.
Sedangkan dalam Islam shalat diwajibkan 5x sehari; yakni shubuh,
dzuhur, ashar, maghrib, dan isya’.
6. Puasa
Orang-orang
Yahudi diwajibkan pada hari Pengampunan Besar (hari ke- 10 tiap bulan ketujuh).
Sedangkan
umat Islam diwajibkan puasa selama sebulan penuh pada bulan Ramadhan.
7.
Memberikan hasil pertanian
Dalam
agama Yahudi diwajibkan mempersembahkan
sepersepuluh hasil pertanian apa saja yang ditanam.
Sedangkan
dalam Islam zakat diwajibkan atas semua hasil pertanian dan buah-buahan yang
ditanam jika sudah mencapai nishob. Tanaman yang mendapat siraman air dari
langit atau mata air, maka zakatnya adalah sepersepuluh. Dan tanaman yang
disiram dengan tenaga manusia, maka zakatnya adalah seperduapuluh.
F.
Metode Da’wah kepada Agama Yahudi
Da’wah
Islam merupakan kewajiban atas setiap Muslim baik laki-laki maupun perempuan. Dalam
berda’wah, seorang Muslim dituntut untuk bersikap hikmah, yaitu menghadapi
setiap problematika da’wah dengan cara yang proporsional tanpa meremehkan atau
melebih-lebihkan, apalagi dalam menghadapi keanekaragaman kondisi da’wah dan
objek da’wah dengan metode-metode da’wah yang paling tepat. Sebagaimana firman
Allah subhanu wa ta’ala;
“Serulah
(manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan
bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih
mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih
mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. An-Nahl: 125)
Dan
metode da’wah yang bisa dilakukan kepada kaum Yahudi adalah dengan berakhlak
mulia, dan menjaga hubungan baik dengan mereka. Hal tersebut dilakukan agar
da’wah yang kita lakukan bisa lebih diterima dan berharap mereka mendapat
hidayah dan masuk Islam.
Disisi
lain, terkadang da’wah juga harus dilakukan dengan cara tegas, wibawa, dan
pemberian hukuman saat mereka tidak bisa lagi diharapakan masuk Islam.
Sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi Muhammad shallahu ‘alaihi wasallam
ketika menghukum kaum yahudi bani Nadzir, Qainuqa’ dan Quraizhah. Wallahu
‘alam.
III.
Referensi
Abdul
Manaf, Mujahid. Sejarah Agama-Agama, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada,
1996
Bakri,
Hasbullah. Ilmu Perbandingan Agama,
Jakarta: Widijaya Jakarta, 1986
Hakim,
Agus. Perbandingan Agama, Jakarata:
Diponegoro, 2006
Husaini,
Adian. Tinjauan Historis Konflik Kristen
Yahudi Islam, Jakarta: Gema Insani Press, 2004
Id.m.wikipedia.org/wiki/Nabi
Lembaga
Pengkajian dan Penelitian WAMY, Gerakan
Keagamaan dan Pemikiran, Jakarta: Al-Itishom, 2002
Pakdenono,
Muhammad Dalam Taurat Israil, 2006
Thalhas,
T.H. Pengantar Study Ilmu Perbandingan Agama, Jakarta: Galura Pase, 2006
[1]
Agus Hakim, Perbandingan Agama,
Jakarata: Diponegoro, 2006, Hal.
[2]
T.H. Thalhas, Pengantar Study Ilmu Perbandingan Agama, Jakarta: Galura
Pase, 2006, Hal. 89
[3] Ibid,
Hal. 89-90
[4]
Mudjahid Abdul Manaf, Sejarah Agama-Agama, Jakarta: PT Raja Grafindo
Persada, 1996, Hal. 43
[5]
Agus Hakim, Perbandingan Agama, Hal.40
[6]
Mudjahid Abdul Manaf, Sejarah Agama-Agama, Hal. 43
[7]
Agus Hakim, Perbandingan Agama, Hal.
38
[8]
Hasbullah Bakri, Ilmu perbandingan agama,
Hal 105
[9]
Mudjahid Abdul Manaf, Sejarah Agama-Agama, Hal. 44
[10]
Hasbullah Bakri, Ilmu Perbandingan Agama,
Hal. 106
[11]
Adian Husaini, Tinjauan Historis Konflik
Kristen Yahudi Islam, Jakarta: Gema Insani Press, 2004, Hal. 19
[12] Ibid
[13]
Hasbullah Bakri, Ilmu Perbandingan Agama,
Jakarta: Widijaya Jakarta, 1986, Hal. 105
[14]
Adian Husaeni, Islam Agama Yahudi, Jakarta:
INSISTS, hal. 11
[15]
Mudjahid Abdul Manaf, Sejarah Agama-Agama, Hal. 56
[16]
Lembaga Pengkajian dan Penelitian WAMY, Gerakan
Keagamaan dan Pemikiran, Jakarta: Al-Itishom, 2002, Hal.449
[17] Ibid
[18]
Mudjahid Abdul Manaf, Sejarah
Agama-Agama, Hal. 58-59
[19] Ibid,
Hal. 22-23
[20] Ibid,
Hal. 17-18
[22]
Agus Hakim, Perbandingan Agama, Hal.
68
[23] Ibid, Hal-68-69
[24]
Lembaga Penelitian dan Pengkajian WAMY, Gerakan
Keagamaan dan Pemikiran, Hal. 448
[25]
T.H. Thalhas, Pengantar Study Ilmu Perbandingan Agama, Hal. 94
[26]
Mudjahid Abdul Manaf, Sejarah Agama-Agama, Hal. 54
[27] Ibid, Hal.72
[28]
T.H. Thalhas, Pengantar Study Ilmu Perbandingan Agama, Hal. 92
[29]
Mudjahid Abdul Manaf, Sejarah Agama-Agama, Hal. 53
[30] Perbandingan Agama, hal 75
[31]
Id.m.wikipedia,org/wiki/nabi
[32]
Pakdenono, Muhammad Dalam Perjanjian Lama, 2006
[33]
Mudjahid Abdul Manaf, Ilmu perbandingan
Agama, Hal. 118
[34]
Agus Hakim, Perbandingan Agama, Hal.
55
[35]
Mudjahid Abdul Manaf, Ilmu Perbandingan
Agama, Hal. 118-119
[36] Ibid, Hal. 119
[37]
Agus Hakim, Perbandingan Agama, Hal.
56-57
[38] Ibid, Hal. 57
[39]
Mudjahid Abdul Manaf, Ilmu Perbandingan
Agama, Hal. 120
[40] Ibid,.
[41]
Agus Hakim, Perbandingan Agama, Hal.
54
[42]
Mudjahid Abdul Manaf, Ilmu Perbandingan
Agama, Hal. 120
[43]
Agus Hakim, Perbandingan Agama, Hal.
54-55
[44]
Mudjahid Abdul Manaf, Ilmu Perbandingan
Agama, Hal. 121
[45]
Agus Hakim, Perbandingan Agama, Hal.
55
[46]
Mudjahid Abdul Manaf, Ilmu Perbandingan
Agama, Hal. 121
[47]
Agus Hakim, Perbandingan Agama, Hal.
55
[48] Ibid, hal. 58
[49] Ibid, hal. 57
[50] Ibid, hal. 58
Tidak ada komentar:
Posting Komentar